TEHERAN (Arrahmah.id) -- Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara terbuka mengakui bahwa ribuan orang telah tewas dalam gelombang protes anti-pemerintah nasional. Dalam pidato yang disiarkan media negara pada Sabtu (17/1/2026), Khamenei turut menyalahkan Amerika Serikat dan 'Israel' atas kekerasan yang terjadi di lapangan.
Pidato Khamenei menandai pengakuan eksplisit pertama dari otoritas Iran tentang besarnya jumlah korban sejak demonstrasi itu merebak pada akhir Desember 2025.
Ia mengatakan bahwa “beberapa orang tewas secara tidak manusiawi dan brutal” selama kerusuhan tersebut, sebagaimana dilaporkan The National (18/1).
Khamenei juga secara langsung menuduh Presiden AS Donald Trump dan kekuatan asing lainnya sebagai dalang di balik aksi kekerasan dan kerusuhan yang telah berlangsung lebih dari dua minggu.
“Orang-orang yang terkait dengan Israel dan AS telah menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang,” kata Khamenei, tanpa menyebutkan rincian verifikasi angka tersebut.
Lembaga pemantau HAM yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan bahwa setidaknya sekitar 3.000 orang tewas selama protes dan penumpasan aparat keamanan, selain lebih dari 22.000 orang ditahan — angka yang belum dapat diverifikasi sepenuhnya karena pemutusan hampir total layanan internet di Iran.
Pidato Khamenei muncul di tengah kondisi relatif tenang di jalanan setelah gelombang protes mereda dalam beberapa hari terakhir, namun suasana masih tegang dengan kehadiran pasukan keamanan di sejumlah kota besar.
Jubir pemerintah Iran sebelumnya mengumumkan rencana untuk menindak tegas tersangka “pelaku kerusuhan” dan mereka yang dituduh berkolaborasi dengan kekuatan asing.
Sikap keras pemerintah digambarkan oleh jaksa agung Iran yang mengatakan bahwa para tahanan yang diduga “membantu perusuh dan teroris yang menyerang pasukan keamanan dan fasilitas publik” akan menghadapi hukuman berat tanpa toleransi.
Reaksi internasional terhadap pengakuan Khamenei beragam, dengan beberapa negara Barat menyatakan keprihatinan atas kekerasan dan jumlah korban, sementara AS sebelumnya sudah memperingatkan rezim Iran tentang kemungkinan tindakan keras jika eksekusi massal terhadap demonstran tidak dihentikan. (hanoum/arrahmah.id)
