LIMA PULUH KOTA (Arrahmah.id) - Warga Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, digegerkan dengan kemunculan sinkhole atau lubang besar yang tiba-tiba muncul di area persawahan Jorong Tepi pada Ahad (4/1/2026).
Fenomena alam tersebut menarik perhatian warga karena dari dalam lubang muncul air yang awalnya keruh, lalu perlahan berubah menjadi jernih dengan warna kebiruan.
Kemunculan air itu memicu rasa penasaran warga. Banyak di antara mereka mendatangi lokasi sinkhole dan bahkan mengambil air yang keluar dari lubang tersebut.
Sebagian warga meyakini air tersebut memiliki khasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Keyakinan ini membuat lokasi sinkhole tak hanya didatangi warga setempat, tetapi juga masyarakat dari luar daerah.
Menanggapi fenomena tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan tim ahli dari Badan Geologi untuk melakukan kajian.
Tim yang berasal dari Bandung itu tiba di lokasi pada Kamis (8/1/2026) pagi, didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lima Puluh Kota Ardiman serta anggota DPRD setempat, M Fajar Rillah Vesky.
Perwakilan Tim Badan Geologi, Taufik Wirabuana, menjelaskan bahwa kedatangan mereka bertujuan untuk melakukan pengambilan data dan pemeriksaan awal terkait fenomena tersebut. Kajian akan dilakukan selama dua hari dengan sifat cepat dan terbatas.
“Kajian cepat ini dilakukan untuk menjawab fenomena apa yang sedang terjadi, termasuk melihat kondisi air, tanah, dan karakter lubang yang muncul,” ujar Taufik.
Ia juga meminta masyarakat tidak mempercayai isu yang beredar di media sosial, termasuk anggapan bahwa air dari sinkhole dapat menyembuhkan penyakit, karena hingga kini belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Fenomena ini turut mendapat perhatian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat.
Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, menegaskan bahwa meyakini sesuatu memiliki khasiat tanpa landasan ilmu pengetahuan dan kajian ahli merupakan tindakan yang tidak rasional.
Buya Gusrizal mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh asumsi pribadi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian warga yang kerap mengaitkan air jernih dengan hal-hal magis atau gaib.
“Dalam Islam, perkara gaib harus bersumber dari dalil yang kuat. Tidak boleh hanya berdasarkan perasaan atau dugaan,” ujarnya.
Untuk mencegah potensi penyimpangan, MUI Sumbar telah berkoordinasi dengan pengurus MUI Kabupaten Lima Puluh Kota guna memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terjerumus pada praktik yang dapat merusak tauhid.
Sementara itu, Fungsional Penyelidik Bumi Ahli Muda Dinas ESDM Provinsi Sumatera Barat, Dian Hadiyansyah, menduga kemunculan lubang tersebut disebabkan oleh amblasnya atap sungai bawah tanah.
Menurutnya, lokasi kejadian berada di kawasan batu gamping atau batu kapur yang memiliki banyak saluran air di bawah permukaan tanah.
“Proses pelarutan batu kapur dapat menyebabkan atap sungai bawah tanah terus tergerus hingga akhirnya runtuh,” jelas Dian saat dikonfirmasi pada Senin (5/1/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kepastian apakah lubang tersebut merupakan fenomena sinkhole masih memerlukan kajian lebih lanjut.
(ameera/arrahmah.id)
