TEHERAN (Arrahmah.id) -- Saluran televisi milik negara Iran mengalami peretasan besar-besaran pada Ahad (18/1/2026) malam, ketika pesan oposisi dari Reza Pahlavi, tokoh oposisi yang tinggal di pengasingan, ditayangkan secara nasional.
Dilansir The Hindustan Times (19/1), iInsiden itu terjadi sekitar pukul 21.30 waktu Teheran, ketika beberapa saluran dari Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) secara tiba-tiba menyiarkan klip yang menunjukkan rekaman aksi protes, seruan untuk tetap turun ke jalan, serta pernyataan Pahlavi yang menyerukan Iranians untuk melanjutkan demonstrasi anti-pemerintah.
Pesan tersebut berlangsung sekitar 10 menit sebelum siaran kembali dikendalikan oleh otoritas resmi.
Menurut Hindustan Times, dalam tayangan itu juga muncul gambar-gambar dari Revolusi Nasional Iran serta ajakan agar militer dan pasukan keamanan berpihak kepada demonstran untuk menentang pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei, yang telah menghadapi kritik tajam selama gelombang protes terbaru.
Peretasan ini terjadi di tengah gelombang protes yang melanda Iran setelah akhir Desember 2025, dipicu oleh krisis ekonomi dan kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan politik yang lebih luas.
Akses internet dan komunikasi di berbagai wilayah sempat diblokir oleh pemerintah, tetapi perekaman siaran TV negara yang diretas menjadi salah satu momen paling sensitif dalam perlawanan digital terhadap rezim.
Juru bicara Reza Pahlavi mengonfirmasi kepada media bahwa pesan tersebut memang disiarkan melalui saluran-saluran pemerintah.
“Pada pukul 9:30 malam waktu Teheran, seluruh saluran yang milik penyiar rezim diserang secara siber; rekaman dari kebangkitan Iran dan pesan dari Pahlavi ditayangkan secara nasional selama sepuluh menit,” demikian pernyataan resmi tim komunikasi Pahlavi.
Pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait siapa yang bertanggung jawab atas peretasan itu atau bagaimana pelaku berhasil menembus sistem penyiaran nasional yang biasanya sangat diawasi dan dilindungi negara.
Namun, para analis keamanan mengatakan insiden ini menunjukkan kemampuan digital yang semakin kompleks dari kelompok-kelompok oposisi selama protes nasional, meskipun pemerintah berupaya membatasi aliran informasi ke luar negeri.
Peretasan televisi negara juga memicu reaksi di kalangan netizen dan diaspora Iran, di mana sebagian melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap kontrol informasi oleh rezim, sementara pihak pemerintah berusaha menegaskan bahwa gangguan itu merupakan “interferensi musuh”.
Penyiaran tersebut terjadi pada waktu sensitif di mana Iran menghadapi tekanan domestik dan internasional yang meningkat, termasuk kekhawatiran atas hak asasi manusia dan kebebasan ekspresi di tengah krisis politik yang berlangsung. (hanoum/arrahmah.id)
