KABUL (Arrahmah.id) -- Pemerintah Imarah Islam Afghanistan (IIA) membantah klaim Pakistan yang menyebut 67 tentara Afghanistan tewas dalam bentrokan di sepanjang perbatasan kedua negara. Kabul menyatakan laporan tersebut tidak benar dan menegaskan pasukannya justru berhasil memukul mundur serangan militer Pakistan dalam pertempuran yang terjadi beberapa hari terakhir.
Menurut pejabat militer Pakistan, seperti dilansir AP (4/3/2026), bentrokan terjadi setelah pasukan Afghanistan menyerang sejumlah pos militer Pakistan di wilayah perbatasan. Islamabad menyatakan bahwa pertempuran sengit tersebut menewaskan 67 personel keamanan Afghanistan dan satu tentara Pakistan ketika konflik memasuki hari kelima. Klaim ini disampaikan pemerintah Pakistan dalam laporan resmi yang dikutip sejumlah media internasional.
Namun Kementerian Pertahanan IIA langsung menolak angka korban yang disampaikan Pakistan. Juru bicara kementerian menyatakan pasukan Afghanistan justru berhasil menahan serangan dan menghancurkan sekitar selusin pos militer Pakistan di perbatasan. Kabul juga mengklaim sedikitnya empat tentara Pakistan tewas dalam pertempuran tersebut.
Menurut laporan Associated Press (3/3), bentrokan terjadi setelah IIA melancarkan serangan balasan atas serangan udara Pakistan yang sebelumnya menghantam wilayah Afghanistan. Sejak saat itu kedua negara terlibat pertempuran lintas batas di sejumlah titik sepanjang garis perbatasan yang membentang lebih dari 2.600 kilometer.
Sejumlah laporan media internasional juga mencatat bahwa konflik terbaru ini merupakan eskalasi paling serius dalam hubungan IIA–Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. Pakistan menuduh pemerintah IIA di Kabul melindungi kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), sementara IIA membantah tuduhan tersebut dan menuding Pakistan melanggar wilayah udara Afghanistan.
Pertempuran di kawasan perbatasan ini telah menimbulkan kekhawatiran internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan puluhan warga sipil ikut menjadi korban dalam konflik tersebut dan mendesak kedua negara segera menghentikan pertempuran serta kembali ke jalur diplomasi.
Eskalasi militer antara Islamabad dan Kabul dipandang berpotensi memperburuk stabilitas keamanan di kawasan Asia Selatan, terutama di tengah meningkatnya aktivitas kelompok militan di wilayah perbatasan kedua negara. (hanoum/arrahmah.id)
