Tafsir Al Fatihah ayat 6, Doa terbaik

Oleh:

|

Kategori:

Foto ilustrasi. (Foto: Internet)

(Arrahmah.id) – Surat Al Fatihah merupakan surat yang paling agung, paling mulia. Al Fatihah adalah cahaya, induknya Qur’an, ia adalah surat terbaik di dalam Al Qur’an.

Sebelum membahas tafsir ayat keenam: “ihdinashiratal mustaqim”, sebelumnya kita membahas apa yang dibawa oleh Imam Hasan Al Basri, tentang ayat “iyyaka na’budu waiyyakanasta’in”, beliau mengatakan: “Barang siapa membaca dua penggalan di satu ayat ini, dan tidak hanya membaca, tetapi dia tahu ilmunya, dan tidak sebatas mengilmui saja, tapi ia tahu bagaimana mengamalkannya, maka niscaya seakan-akan dia mengamalkan seluruh kitab suci Allah SWT.”

Karena intinya adalah: hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Dan para ulama menjelaskan sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim: iyya kana’budu adalah tujuan, dan iyya kanasta’in adalah sarana atau jembatan untuk menuju tujuan tersebut.

Dan itu artinya, tanpa kita meminta pertolongan kepada Allah, kita tidak bisa menggapai tujuan iyyakana’budu. Dan itu artinya juga tujuan ibadah itu pasti akan tercapai kalau Allah tolong kita, kalau Allah memberikan taufiq hidayah kepada kita. Kita bisa shalat, berpuasa, mengaji Qur’an, bisa menghafalkan beberapa surat dalam Qur’an, semua ibadah bisa tercapai karena Allah memberikan pertolongan dan taufiqNya kepada kita, jika tidak Allah tolong maka tidak akan bisa.

Bagaimana agar Allah memberikan pertolongan kepada kita? Kita minta kepada Allah, jangan kita diam, jangan kita mengandalkan diri kita, jangan kita mengandalkan daya kita yang lemah.

“Manusia itu diciptakan dengan kondisi yang lemah.” Maka jangan andalkan diri kita, minta pertolongan kepada Allah.

Nabi mengajarkan kepada Muadz bin Jabal radhiallahuanhu sebuah doa, yang disunnahkan kita baca di penghujung shalat kita: “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika (ya Allah berilah pertolongan kepadaku agar senantiasa berdzikir kepadamu ya Allah, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu).”

Muadz adalah sahabat yang paling mengetahui perkara haram dan juga halal, tapi tetap diajarkan oleh Nabi agar meminta pertolongan kepada Allah.

Doa yang dibaca pagi dan petang: “Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.” Pertolongannya benar-benar darurat, permohonan yang benar-benar kita tujukan kepada Allah dengan penuh ketundukan, penuh kerendahan, kita minta kepada Allah (astaghits).

Banyak dari kita masih kurang meminta pertolongan kepada Allah, kita masih kurang sadar bagaimana kita minta pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Lalu kita lanjutkan ayat ke-6 dalam surat Al Fatihah: Ihdinashiratal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus).

Pelajaran pertama yang diambil dari ayat ini sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu ayat ini mengajarkan kepada kita agar kita minta, agar berdoa kepada Allah SWT, agar Allah memberikan petunjuk kepada kita jalan yang lurus.

Lalu apa shiratal mustaqim? Apa petunjuk yang lurus itu? Adalah apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam. Kemudian dijelaskan oleh para sahabat radhiallahuta’ala. Shiratal mustaqim adalah agama Islam, agama ini, maka kita diminta kepada Allah, berdoa kepada Allah, agar Allah berikan hidayah, taufiq, agar Allah berikan jalan yang lurus di dalam agama ini kemudian istiqamah di atas jalan tersebut. Bukan hanya petunjuk jalan yang lurus, akan tetapi meminta istiqamah sampai Allah wafatkan kita.

Pelajaran kedua: Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah kita beribadah, dan setelah kita istia’nah (meminta pertolongan kepada Allah) kita diperintahkan lagi untuk kembali kepada Allah, meminta taufiq dan hidayah agar kita berada di jalan yang lurus. Ini yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Ushaimin rahimahullah.

Jadi kita minta hidayah, petunjuk kepada Allah, agar Allah tetapkan kita berada di jalan yang lurus, dan istiqamah di atasnya.

Siapa yang menjamin bahwa besok kita tidak tergelincir dari kesesatan? Siapa yang bisa menjamin kita tidak jatuh ke kubangan maksiat? Maka kita minta sama Allah agar Allah berikan keistiqamahan di jalan yang lurus. Kembali kepada Allah SWT, terus minta hidayah, minta taufiq, istiqamah, terus mendekat kepada Allah, karena hidayah dan taufiq ada di tangan Allah. Sedekat apa pun kita dengan orang-orang shalih, pasangan kita, guru kita, sedekat apa pun kita dengan mereka, jika Allah tidak menetapkan hidayah dan istiqamah di atas jalan yang lurus, tidak akan bisa kita bertahan.

Abu Lahab, kurang dekat apa dengan Nabi? Beliau paman Nabi, awalnya sangat mencintai Nabi, bukti kecintaan Abu Lahab ketika Rasulullah lahir, dia diinformasikan oleh budaknya bahwa keponakannya lahir, setelah mendengar kabar baik tersebut, dia langsung memerdekakan budak tersebut. Karena sangat senangnya mendengar kabar berita lahirnya keponakannya sendiri.

Padahal memerdekakan budak itu sangat mahal di zaman itu. Itu karena cintanya Abu Lahab kepada Rasulullah.

Tetapi kita tahu Abu Lahab disebutkan dalam Qur’an, bukan sanjungan dan pujian melainkan celaan dalam surat Al Lahab.

Itu Abu Lahab, lalu Abu Tholib, pamannya Nabi yang lain. Kurang berkorban apa Abu Tholib membentengi, melindungi Nabi, beliau memasang badan, mencegah gangguan-gangguan yang datang dari kabilahnya sendiri, pengorbanan beliau dengan pengorbanan kita sangatlah jauh, tetapi hidayah di tangan Allah, ia wafat dalam agama leluhurnya.

Jadi bukan karena kedekatan seseorang dengan orang shalih, karena hidayah ada di tangan Allah. Dan jika jalan yang lurus itu karena kecerdasan, maka seharusnya Washil bin Atha’, salah satu murid Hasan Al Basri, sosok yang cerdas, sangat cerdas, tapi dia keluar dari ajaran Hasan Al Basri, bahkan mengusung paham mu’tazilah. Padahal dia menuntut ilmu dari seorang guru yang benar. Dia keluar dari petunjuk kebenaran dan mengusung paham sesat mu’tazilah. Jadi jalan yang lurus jelas bukan mengusung kecerdasan.

Minta petunjuk jalan yang lurus dan minta keistiqamahan kepada Allah, jangan mengandalkan diri kita, jangan mengandalkan kekuatan kita, minta kepada Allah SWT.

Pelajaran ketiga, dijelaskan Al Imam Ibnu Katsir, menerangkan bahwa ayat ini menjelaskan kepada kita bagaimana adab yang benar dalam berdoa. Sebelum kita minta kepada Allah, kita awali dahulu memuji dan memuja Allah di ayat-ayat sebelumnya. Setelah alhamdulillah, kita puji lagi dengan arrahman arrahim, setelah pujian kita tunjukkan pada Allah, kita agungkan Allah dengan kita sebut “malikiyaumiddin”, Allah raja Hari Pembalasan, kemudian ayat berikutnya, iyyakana’budu wa iyya kanastain.

Kita seringkali lupa memuja dan memuji Allah terlebih dahulu. Yang kedua pengagungan kepada Allah. Kita minta harta, meminta rezeki, tapi kita lupa memuja dan mengagungkan Allah, lalu yang ketiga komitmen, baru kita meminta kepada Allah.

Agar doa kita diterima Allah, seringkali kita lupa dan melalaikan adab berdoa kita. Dan lakukan itu di doa-doa kita sehari-hari di luar shalat.

Kemudian pelajaran keempat yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Abdul Halim: Ini adalah doa terbaik, doa terpenting yang harus dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Allah. Doa terbaik dan terpenting yaitu meminta petunjuk kepada Allah.

Doa ini adalah satu-satunya doa yang wajib kita baca minimal 17 kali dalam sehari, dan statusnya adalah bagian dari rukun shalat.

“Tidak ada shalat yang sah, bagi yang tidak membaca surat Al Fatihah”, dan ihdinashiratal mustaqim adalah bagian dari surat tersebut.

Kalau surat-surat yang lain, kita bisa berhenti di tengah ayat, kemudian langsung rukuk, karena bukan rukun. Tapi ihdinashiratal musqatim, tidak bisa tidak dibaca.

Maka ini benar, ini tepat jika dikatakan adalah doa yang terbaik, 17 kali minimal dibaca dalam sehari.

Ketika Allah memasukkan ihdinashiratal mustaqim, itu kata para ulama, adalah doa yang terbaik.

Jangan hanya sebatas membaca, sayang, benar-benar kita meminta petunjuk Allah, minta keistiqamahan, meminta perbaikan. Manusia itu pasti salah, pasti lupa, pasti tergelincir, tapi jika nilai-nilai visi misinya sudah ihdinashiratal mustaqim, dia akan langsung kembali kepada Allah, langsung menumbuhkan harapan, tidak membiarkan diri terperosok di bawah bayangan keputusasaan yang dibisikan oleh setan, iblis.

Ini adalah doa terbaik, namun kita seringkali lupa.

Pelajaran kelima dari ayat ini, bahwa para ulama mengatakan bahwa ihdinashiratal muqtaqim atau petunjuk jalan yang lurus adalah salah satu atau bahkan satu-satunya jalan kita menuju meraih kebahagiaan. Tidak ada jalan untuk mendapatkan kebahagiaan kecuali istiqamah di atas shiratal mustaqim (petunjuk yang lurus).

Jalan kebahagiaan bukan sekedar banyaknya anak, betapa banyak seorang ibu dan seorang bapak diberikan keturunan yang banyak, tapi dia tidak mendapatkan kebahagiaan. Betapa banyak ibu yang menangis bukan karena tidak punya beras di rumah, bukan karena di bully oleh tetangganya, tapi dia menangis karena anak-anaknya sendiri yang menyakiti hatinya.

Jika hanya sebatas anak, itu bukan jalan kebahagiaan, sebagaimana banyaknya harta, tingginya jabatan, panjangnya umur itu bukan jalan kebahagiaan.

Kekayaan, harta, anak, jabatan, umur, jika hanya sebatas itu, bukan jalan kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu hanya bisa diraih jika bisa istiqamah di atas petunjuk dan jalan yang lurus. Karena ini adalah petunjuk dan arahan dari Allah.

Imam Ahmad Ibnu Abdul Halim, beliau sampai wafatnya belum sempat menikah. Berjuang di agama ini, bahkan tujuh kali keluar masuk penjara. Dan hidupnya bahagia, wafat dalam keadaan Islam. Tidak ada pasangan, tidak ada istri. Tujuh kali masuk penjara karena dizalimi, dengan tuduhan palsu, namun sampai saat ini banyak kaum Muslimin mendapatkan keberkahan dari ilmu beliau. Karena beliau berjuang, berusaha istiqamah di atas jalan yang lurus.

Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa istiqamah di atas jalan yang lurus.

Jika kekuasaan itu jalan kebahagiaan, maka Fir’aun lebih bahagia dari Nabi Musa, Namrud lebih bahagia dari Nabi Ibrahim, namun kita sepakat tidak demikian. Jelas Nabi Musa dan Nabi Ibrahim lebih bahagia di dunia dan akhirat. Keduanya menaati perintah Allah, meniti jalan yang lurus, petunjuk yang benar, itulah ihdinashiratal mustaqim.

Jika bukan karena petunjuk Allah, tidak mungkin kita bisa merasakan nikmatnya mengkaji Qur’an, merasakan nikmatnya shalat. Walaupun kita tidak memiliki kedudukan di mata manusia, tetapi kita bisa mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan yang kekal di dunia dan akhirat.

*Disarikan dari kajian tafsir oleh Ustadz Ilham Prayogo hafidzahullah

(haninmazaya/arrahmah.id)