Memuat...

Trump Tetapkan Selasa 20.00 Waktu Timur AS: Buka Selat Hormuz atau Hadapi “Neraka”

Samir Musa
Senin, 6 April 2026 / 18 Syawal 1447 06:56
Trump Tetapkan Selasa 20.00 Waktu Timur AS: Buka Selat Hormuz atau Hadapi “Neraka”
Trump menulis di akun Truth Social miliknya: Selasa, pukul 20.00 waktu Amerika Timur (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap Iran, dengan memberi ultimatum tegas: mencapai kesepakatan atau menghadapi kehancuran besar-besaran.

Dalam serangkaian pernyataan pada Ahad (5/4), Trump mengklaim bahwa Washington tengah menjalani “negosiasi mendalam” dengan Iran. Namun di saat yang sama, ia memperingatkan bahwa kegagalan perundingan akan berujung pada serangan besar.

“Jika mereka tidak membuka Selat Hormuz, mereka akan menghadapi neraka,” ancam Trump.

Ia bahkan menetapkan tenggat waktu yang sangat spesifik: Selasa pukul 20.00 waktu Timur AS, atau sekitar pukul 14.00 WIB pada Rabu.

Negosiasi Rahasia Tanpa Hasil

Menurut laporan media Amerika, pembicaraan antara kedua pihak berlangsung secara tidak langsung melalui mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki.

Komunikasi disebut dilakukan melalui pesan tertulis antara penasihat Trump dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda terobosan.

Bahkan, Trump sendiri mengisyaratkan keraguannya terhadap keseriusan Iran.

“Mereka bilang akan bertemu dalam lima hari. Saya tanya, kenapa lima hari? Saya rasa mereka tidak serius,” ujarnya, seraya menyinggung serangan terbaru yang menghantam infrastruktur di Iran.

Ancaman Serangan Total

Dalam pernyataan yang lebih keras, Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi.

Ia menyebut target serangan mencakup:

  • Pembangkit listrik
  • Jembatan
  • Fasilitas industri di seluruh negeri

“Jika mereka tidak patuh, mereka akan kehilangan semua stasiun listrik dan pabrik mereka,” katanya.

Ia bahkan mengklaim bahwa Iran membutuhkan hingga 20 tahun untuk pulih—“itu pun jika negara itu masih ada,” tambahnya.

Tidak berhenti di situ, Trump juga membuka kemungkinan pengiriman pasukan darat AS serta ancaman untuk “mengambil alih minyak” Iran.

Retorika Kasar dan Eskalasi Berbahaya

Melalui platform Truth Social, Trump kembali melontarkan ancaman bernada kasar.

“Selasa akan menjadi hari pembangkit listrik dan jembatan… buka selat itu, atau kalian akan hidup dalam neraka!” tulisnya.

Pernyataan ini memicu kekhawatiran luas akan eskalasi besar di kawasan Timur Tengah, terutama jika ancaman terhadap infrastruktur sipil benar-benar dilaksanakan.

Kekhawatiran Hukum dan Kemanusiaan

Sejumlah pihak menilai ancaman terhadap fasilitas sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan berpotensi melanggar hukum internasional.

Meski pihak AS mengklaim serangan tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran—termasuk program rudal dan drone—namun serangan luas terhadap infrastruktur sipil dinilai dapat menimbulkan krisis kemanusiaan.

Di sisi lain, Teheran menegaskan bahwa pernyataan Washington menunjukkan niat terang-terangan untuk melakukan kejahatan perang.

Menuju Titik Kritis

Dengan tenggat waktu yang semakin dekat, dunia kini menanti: apakah jalur diplomasi akan menyelamatkan situasi, atau justru Timur Tengah kembali terseret ke dalam konflik besar yang lebih luas.

Selasa malam kini bukan sekadar batas waktu—tetapi bisa menjadi awal dari babak baru konfrontasi yang berbahaya.

(Samirmusa/arrahmah.id)