CARACAS (Arrahmah.id) - Kepemimpinan sementara Venezuela menuduh Washington telah melakukan operasi terhadap Nicolás Maduro yang disebut bermotif ideologis dan terkait dengan Zionisme.
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada Sabtu (3/1/2026), pemimpin sementara Delcy Rodríguez mengecam tindakan Amerika Serikat tersebut. Ia mengatakan, “Pemerintah-pemerintah di seluruh dunia terkejut bahwa Republik Bolivarian Venezuela telah menjadi korban dan sasaran serangan semacam ini, yang tidak diragukan lagi memiliki nuansa Zionis.”
Rodríguez juga memperingatkan pihak-pihak di balik operasi tersebut, dengan menyatakan, “Kaum ekstremis yang telah mendorong agresi bersenjata terhadap negara kami, sejarah dan keadilan akan membuat mereka membayar.”
Pernyataan itu disampaikan beberapa jam setelah pasukan khusus Amerika Serikat menahan presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolás Maduro, di ibu kota Caracas. Pada saat yang sama, jet tempur AS membombardir instalasi dan pangkalan militer utama di berbagai wilayah Venezuela pada Sabtu dini hari (3/1).
Rodríguez, sekutu dekat Maduro yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden, kemudian ditunjuk sebagai kepala negara sementara berdasarkan putusan Mahkamah Agung Venezuela.
Maduro sendiri dalam beberapa bulan terakhir menggunakan narasi serupa. Pada November lalu, ia menuduh pihak-pihak tak disebutkan namanya berupaya menyerahkan Venezuela kepada kekuatan musuh. Dalam pidatonya di hadapan Komite Basis Integral Bolivarian, Maduro mengatakan, “Ada pihak-pihak yang ingin menyerahkan negara ini kepada para iblis, kalian tahu siapa, bukan? Kaum Zionis sayap kanan ingin menyerahkan negara ini kepada para iblis.”
'Israel' termasuk sedikit negara yang secara terbuka menyambut operasi Amerika Serikat tersebut, meskipun secara luas menuai kecaman internasional yang menilai langkah itu sebagai pelanggaran hukum internasional.
“Israel memuji operasi Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Trump, yang bertindak sebagai pemimpin dunia bebas,” kata Menteri Luar Negeri 'Israel' Gideon Sa’ar melalui X. “Pada momen bersejarah ini, 'Israel' berdiri bersama rakyat Venezuela pencinta kebebasan, yang telah menderita di bawah tirani ilegal Maduro.”
Operasi tersebut memicu kecaman keras di seluruh Amerika Selatan, termasuk dari Brasil, Kolombia, dan Cile, serta dari sekutu utama Venezuela seperti Rusia, China, dan Iran.
Kritik juga muncul di dalam negeri Amerika Serikat, di mana para anggota parlemen dari Partai Demokrat menyebut serangan itu sebagai “ilegal”, sehingga meningkatkan sorotan terhadap langkah Washington dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan. (zarahamala/arrahmah.id)
