TEL AVIV (Arrahmah.id) – Media 'Israel' melaporkan pada Senin malam (14/7/2025) bahwa seorang tentara 'Israel' kembali bunuh diri setelah bertugas dalam perang genosida di Gaza, menjadikannya kasus ketiga dalam kurun waktu 10 hari terakhir.
Menurut Radio Tentara 'Israel', tentara tersebut berasal dari Brigade Nahal dan mengakhiri hidupnya pada Senin pagi (14/7) di sebuah pangkalan militer di Dataran Tinggi Golan.
Sementara itu, harian Yedioth Ahronoth menyebut bahwa tentara ini terlibat aktif dalam pertempuran di Gaza selama lebih dari satu tahun, tanpa menyebutkan secara langsung penyebab bunuh dirinya.
Ledakan Psikologis di Balik Senjata
Pekan lalu, seorang tentara dari Brigade Golani juga dilaporkan bunuh diri di pangkalan militer Sde Teman di Gurun Negev, dengan cara menembakkan peluru ke dirinya sendiri.
Menurut harian Haaretz, sebelum kejadian, ia tengah menjalani penyelidikan internal oleh Polisi Militer dan diputuskan untuk dicabut hak memegang senjata. Namun, beberapa jam kemudian ia mengambil senjata milik rekannya dan bunuh diri.
Di waktu yang hampir bersamaan, Walla melaporkan kasus bunuh diri lainnya yang melibatkan seorang tentara yang mengalami tekanan psikologis berat akibat berbulan-bulan pertempuran brutal di Gaza dan Lebanon, serta horor yang ia saksikan selama perang.
Jumlah yang Mengkhawatirkan
Sejak dimulainya perang 'Israel' terhadap Gaza pada 7 Oktober 2023, setidaknya 44 tentara 'Israel' telah bunuh diri, menurut data media 'Israel'. Sebagian besar kasus disebabkan oleh gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan gejala kejiwaan berat yang dipicu oleh pertempuran dan kekejaman yang mereka alami atau saksikan.
Lebih dari itu, laporan menunjukkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, semakin banyak tentara yang menolak kembali bertugas ke Gaza, bahkan beberapa di antaranya dijatuhi hukuman penjara karena pembangkangan.
Fenomena ini menunjukkan runtuhnya moral dan stabilitas psikologis di kalangan tentara 'Israel', terutama di tengah kebuntuan militer dan kegagalan strategis yang mereka hadapi akibat perlawanan Palestina yang semakin terorganisir dan mematikan.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah bunuh diri ini menjadi indikator serius dari dampak jangka panjang perang genosida terhadap tentara pelaku, dan sekaligus bukti bahwa mesin militer 'Israel' tak hanya melukai Gaza, tetapi juga menghancurkan jiwa para tentaranya sendiri. (zarahamala/arrahmah.id)
