(Arrahmah.id) - Baru-baru ini, sebuah video beredar di media sosial Arab dan Palestina yang menunjukkan Menteri Keamanan Nasional "Israel", Itamar Ben Gvir, memasuki sel tahanan Palestina Marwan al-Barghouthi, mengancam, dan mengejeknya.
Video ini telah memicu reaksi keras global, lansir Tolo News (17/8/2025).
Menurut media Arab, Ben Gvir mengatakan kepada Barghouthi: "Kalian tidak akan menang. Siapa pun yang mengganggu Negara 'Israel' dan membunuh anak-anak dan perempuan kami, kami akan melenyapkan mereka. Kalian harus tahu bahwa ini telah terjadi sepanjang sejarah."
Penahanan Panjang Barghouthi
Istri Barghouthi, pengacara Palestina Fadwa Barghouthi, mengatakan ia bahkan tidak dapat mengenali wajah suaminya.
Menyusul video ini yang dirilis di media sosial, kekhawatiran juga meningkat atas kondisi kesehatan Barghouthi yang buruk di penjara. Laporan menunjukkan bahwa kesehatannya telah memburuk secara signifikan dan ia menjadi sangat lemah.
Barghouthi yang berusia 67 tahun, tahanan Palestina paling terkemuka, saat ini ditahan di penjara Ramon, "Israel".
Seberapa Jauh Kita Mengenal Mandelanya Palestina?
Barghouthi lahir pada 6 Juni 1958, di desa Kobar, barat laut Ramallah. Ia bergabung dengan gerakan Fatah pada usia 15 tahun, dan pada usia 18 tahun ia ditangkap untuk pertama kalinya oleh pasukan "Israel". Selama masa penahanannya, ia belajar bahasa Ibrani.
Barghouthi dijuluki "Dekan Tahanan" dan "Mandelanya Palestina." Ia adalah salah satu tahanan Palestina tertua dan paling terkenal, serta dianggap sebagai simbol perjuangan global, seperti halnya Nelson Mandela.
Sepanjang masa kuliahnya, Barghouthi menghadapi penangkapan dan penganiayaan berulang kali. Pada 1984, ia ditangkap selama beberapa minggu dalam interogasi, dan pada 1985 ia ditahan lagi selama lebih dari 50 hari untuk diinterogasi, sebelum akhirnya ditempatkan dalam tahanan rumah di akhir tahun yang sama.
Barghouthi adalah salah satu pemimpin Intifada Pertama pada 1987. Otoritas "Israel" menangkap dan mendeportasinya ke Yordania, tempat ia menghabiskan tujuh tahun di sana.
Ia kembali ke Tepi Barat pada 1994 berdasarkan Perjanjian Oslo yang ditandatangani antara "Israel" dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pada 1996, ia terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina.
Pada 15 April 2002, pasukan "Israel" menangkap Barghouthi dari rumahnya di lingkungan al-Tireh, Ramallah, di Tepi Barat tengah, dan membawanya ke pengadilan.
Pada tahun yang sama, ia dipenjara setelah dituduh oleh "Israel" mendirikan kelompok bersenjata Brigade Martir al-Aqsa, sebuah tuduhan yang dibantah Barghouthi.
Dan kini, Marwan al-Barghouthi telah mendekam di penjara "Israel" selama hampir 23 tahun. (haninmazaya/arrahmah.id)
