GAZA (Arrahmah.id) - Pada Sabtu (8/11/2025), seorang anak Palestina tewas di Khan Yunis setelah sisa bahan peledak yang ditinggalkan pasukan 'Israel' meledak. Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan ledakan itu terjadi di area pemukiman padat penduduk, menyoroti ancaman berkelanjutan dari sisa-sisa perang yang tersebar di seluruh Gaza.
Menurut data pemerintah Palestina, sekitar 20.000 proyektil dan roket yang belum meledak masih tersebar di wilayah Gaza. Para ahli memperingatkan bahwa proses pembersihan bisa memakan waktu dua hingga tiga dekade, namun masuknya peralatan khusus penjinak bom sejauh ini belum diizinkan.
Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena banyak dari mereka tidak menyadari bahaya benda-benda tersebut. Dengan banyaknya lingkungan yang hancur dan minim ruang aman, para pekerja kemanusiaan menyebut Gaza kini telah berubah menjadi “ladang ranjau terbuka.”
Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan korban baru tewas dan luka-luka akibat pelanggaran berkelanjutan oleh pasukan 'Israel', sementara tim pertahanan sipil masih kesulitan menjangkau area yang hancur akibat berbulan-bulan pengeboman.
Dalam pembaruan harian pada Ahad (9/11), Kementerian mengonfirmasi tujuh warga Palestina tewas dalam 24 jam terakhir, satu korban baru dan enam jenazah yang ditemukan di bawah reruntuhan permukiman yang sebelumnya diserang. Selain itu, lima orang lainnya dilaporkan luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit di berbagai wilayah Jalur Gaza.
Upaya penyelamatan dilaporkan masih sangat terhambat. Banyak korban diduga masih terperangkap di bawah reruntuhan bangunan dan jalan yang rusak, sementara ambulans dan tim pertahanan sipil menghadapi kendala besar akibat infrastruktur yang hancur, minimnya peralatan, dan risiko serangan lanjutan.
Sejak gencatan senjata diumumkan pada 11 Oktober 2025, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 241 warga tewas dan 619 luka-luka, sementara 528 jenazah dari serangan sebelumnya telah berhasil ditemukan.
Meski gencatan senjata masih berlaku, pelanggaran oleh pasukan 'Israel' terus berlanjut, terlihat dari terus bertambahnya jumlah korban.
Sejak dimulainya agresi 'Israel' ke Gaza pada 7 Oktober 2023, total korban jiwa mencapai 69.176 orang tewas dan 170.690 luka-luka.
Pejabat kesehatan dan organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa situasi krisis semakin memburuk di tengah terbatasnya akses terhadap layanan darurat, perawatan medis, dan kebutuhan dasar. (zarahamala/arrahmah.id)
