Memuat...

Ansarallah Klaim Serangan Drone ke Bandara Ben Gurion dan Dua Target Vital 'Israel'

Zarah Amala
Sabtu, 9 Agustus 2025 / 16 Safar 1447 09:46
Ansarallah Klaim Serangan Drone ke Bandara Ben Gurion dan Dua Target Vital 'Israel'
Juru bicara militer Ansarallah, Yahya Saree. (Foto: pengambilan video)

SANAA (Arrahmah.id) - Juru bicara militer Ansarallah, Yahya Saree, mengumumkan bahwa pasukannya berhasil melancarkan serangan drone ke tiga target strategis 'Israel', termasuk Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, serta dua lokasi vital di Beersheba dan Ashkelon, wilayah Palestina yang diduduki.

Saree menyebut operasi ini sebagai bagian dari dukungan terhadap rakyat Palestina dan respons atas “kejahatan genosida dan kelaparan” yang dilakukan 'Israel' di Gaza. “Angkatan Udara berhasil melakukan tiga operasi militer berkualitas, menargetkan tiga sasaran musuh Zionis dengan tiga drone. Target pertama adalah Bandara Lod (Ben Gurion) di wilayah Jaffa (Tel Aviv),” ujarnya.

Ia menambahkan, “Dua pesawat lainnya menargetkan dua sasaran vital musuh Zionis di wilayah Beersheba dan Ashkelon,” tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Saree menegaskan bahwa serangan terhadap 'Israel' akan berlanjut hingga agresi di Gaza dihentikan dan blokade di wilayah tersebut dicabut. Ia juga kembali memperingatkan perusahaan yang berurusan dengan pelabuhan 'Israel' bahwa kapal mereka akan menjadi sasaran, tanpa memandang tujuan perjalanan, jika tidak segera menghentikan hubungan bisnis tersebut.

Sejak 7 Oktober 2023, Ansarallah gencar melancarkan serangan rudal dan drone ke arah 'Israel' serta menargetkan kapal yang terhubung atau menuju pelabuhan 'Israel'. Pada 27 Juli lalu, kelompok tersebut mengumumkan eskalasi operasi laut dengan menargetkan kapal milik perusahaan yang berdagang dengan 'Israel', tanpa memandang kebangsaan, sebagai bentuk dukungan langsung terhadap Gaza.

Agresi Israel ke Gaza, yang didukung Amerika Serikat, telah menewaskan 61.330 warga Palestina dan melukai 152.359 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Lebih dari 9.000 orang masih hilang, ratusan ribu mengungsi, dan kelaparan telah merenggut banyak korban jiwa, meski ada seruan internasional serta perintah Mahkamah Internasional untuk menghentikan operasi tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)