SANAA (Arrahmah.id) - Sumber keamanan maritim melaporkan pada Kamis (10/7/2025) bahwa kelompok Ansarullah yang berbasis di Yaman diyakini telah menahan enam dari 22 awak kapal kargo berbendera Liberia milik perusahaan Yunani yang mereka serang dan tenggelamkan awal pekan ini di Laut Merah.
Ansarullah sebelumnya mengumumkan pada Rabu (9/7) bahwa mereka telah menyelamatkan sejumlah awak kapal tersebut, namun tanpa merinci jumlah maupun identitas mereka.
Sementara itu, pada Kamis (10/7), tim penyelamat berhasil menarik tiga orang awak kapal lainnya beserta satu petugas keamanan dari laut dalam kondisi hidup, mereka ditemukan lebih dari 48 jam setelah kapal “Eternity C” diserang dan tenggelam. Menurut sumber keamanan, beberapa awak yang masih hilang diyakini berada dalam tahanan Ansarullah.
Dengan tambahan ini, total awak kapal yang berhasil diselamatkan sejauh ini mencapai 10 orang, termasuk delapan warga Filipina, satu warga India, dan satu petugas keamanan asal Yunani.
Namun, 11 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Nikos Georgopoulos, pejabat dari perusahaan Yunani Diablos Maritime Risks yang menangani risiko keamanan kapal, mengatakan, "Penemuan mereka hari ini memberi kami semangat baru untuk terus mencari para korban yang belum ditemukan, sesuai permintaan operator kapal. Ini juga membuktikan bahwa rencana pencarian kami sudah berada di jalur yang benar."
Kapal Eternity C merupakan kapal kedua yang ditenggelamkan Ansarullah dalam sepekan terakhir. Misi AS untuk Yaman menuduh Ansarullah menculik beberapa awak kapal yang selamat, dan menyerukan pembebasan segera serta tanpa syarat.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan lewat siaran televisi, juru bicara militer Ansarullah menyebut bahwa Angkatan Laut mereka telah menyelamatkan sejumlah awak kapal, memberikan perawatan medis, dan memindahkan mereka ke lokasi yang aman.
Kapal tersebut tenggelam pada Rabu (9/7), hanya beberapa hari setelah Ansarullah juga menenggelamkan kapal Magic Seas. Kedua insiden ini merupakan bagian dari kampanye laut yang kembali digencarkan sejak November 2023, dan hingga kini telah mencatat lebih dari 100 serangan terhadap kapal-kapal dagang.
Setelah serangan kedua terhadap Eternity C pada Selasa pagi (8/7), para awak kapal terpaksa melompat ke laut untuk menyelamatkan diri. Pencarian terhadap mereka telah berlangsung sejak Rabu pagi (9/7).
Baik Magic Seas maupun Eternity C berbendera Liberia dan dikelola oleh perusahaan-perusahaan pelayaran asal Yunani. Semua awak kapal Magic Seas berhasil diselamatkan sebelum kapalnya tenggelam, sementara Eternity C pertama kali diserang Senin sore (7/7) menggunakan perahu drone dan granat roket yang diluncurkan dari kapal cepat.
Sumber keamanan maritim menyebutkan bahwa empat orang diyakini tewas dalam serangan tersebut. Jika dikonfirmasi, maka ini akan menjadi kematian pertama dalam rangkaian serangan kapal di Laut Merah sejak Juni 2024.
Sejak awal genosida 'Israel' di Gaza, Ansarullah menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan kapal apa pun yang terhubung dengan 'Israel' melewati Selat Bab Al-Mandab hingga 'Israel' menghentikan kampanye pembantaiannya.
Blokade laut ini kemudian diperluas untuk mencakup semua kapal yang menuju ke 'Israel'. Meskipun AS melakukan intervensi dan melancarkan serangan udara ke wilayah Yaman untuk mendukung 'Israel', Ansarullah tetap konsisten dengan sikapnya, tidak ada kapal menuju 'Israel' yang akan lewat dengan aman selagi Gaza masih dibombardir. (zarahamala/arrahmah.id)
