SANAA (Arrahmah.id) - Angkatan Bersenjata Yaman yang berafiliasi dengan gerakan Ansarallah (Houtsi) mengumumkan pada Rabu (16/7/2025) bahwa mereka telah melancarkan empat operasi militer baru yang menargetkan situs-situs strategis 'Israel', termasuk serangan rudal langsung ke Bandara Ben Gurion menggunakan rudal balistik Zulfiqar.
Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Ansarallah, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengatakan tiga serangan lainnya menargetkan Pelabuhan Umm al-Rashrash (Eilat), sebuah situs militer di wilayah Naqab (Negev), dan kembali ke Bandara Ben Gurion, kali ini menggunakan total empat pesawat nirawak (drone).
Saree menegaskan kembali bahwa Angkatan Bersenjata Yaman akan terus menjalankan “tanggung jawab agama, moral, dan kemanusiaan terhadap rakyat Palestina,” serta menekankan bahwa operasi militer akan berlanjut hingga Israel menghentikan agresinya di Gaza dan mencabut blokade.
Peringatan Baru untuk Perusahaan Asing
Militer Yaman juga mengeluarkan peringatan baru kepada perusahaan-perusahaan internasional yang beroperasi di pelabuhan-pelabuhan wilayah pendudukan Palestina, memperingatkan bahwa kapal-kapal mereka bisa menjadi sasaran jika tetap melanjutkan aktivitas di sana.
Yaman mengonfirmasi bahwa mereka masih memberlakukan blokade laut terhadap pengiriman barang ke 'Israel' di Laut Merah dan Laut Arab, sebagai bagian dari kampanye militer yang lebih luas untuk mendukung Gaza.
Sehari sebelumnya, pada Selasa (15/7/), Saree juga telah mengonfirmasi keberhasilan serangan drone ke salah satu situs militer utama 'Israel' di wilayah pendudukan Naqab.
Dalam pernyataannya, Saree menekankan bahwa operasi Yaman akan terus berlanjut tanpa jeda hingga agresi terhadap Gaza dihentikan dan blokade atas Palestina dicabut sepenuhnya.
Blokade Yaman Lumpuhkan Pelabuhan Eilat
Blokade maritim yang diberlakukan Yaman telah menimbulkan dampak ekonomi serius bagi 'Israel'. Media bisnis 'Israel', The Marker, melaporkan bahwa Pelabuhan Eilat akan menghentikan seluruh operasinya mulai Minggu ini setelah pemerintah kota membekukan rekening bank pelabuhan karena menumpuknya utang hingga jutaan shekel.
Pelabuhan tersebut mengalami kelumpuhan hampir total sejak November 2023, saat Yaman memulai blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju 'Israel'. Langkah itu secara drastis menurunkan pendapatan dan melumpuhkan aktivitas komersial pelabuhan.
Menurut The Marker, pemerintah kota Eilat membekukan rekening pelabuhan akibat tunggakan utang yang besar, yang secara efektif menghentikan semua operasional pelabuhan.
Dalam laporan sebelumnya, The Marker juga mengungkapkan bahwa pendapatan Pelabuhan Eilat anjlok hingga 80% selama 2024, seiring banyak perusahaan pelayaran internasional menghindari jalur Laut Merah akibat ancaman serangan dari Yaman, yang diberlakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
