Memuat...

Arab Saudi Perluas Akses Alkohol bagi Pemegang Izin Tinggal Premium Non-Muslim

Zarah Amala
Selasa, 25 November 2025 / 5 Jumadilakhir 1447 11:00
Arab Saudi Perluas Akses Alkohol bagi Pemegang Izin Tinggal Premium Non-Muslim
Langkah ini menandai langkah terbaru yang diambil oleh pihak berwenang untuk meresmikan penjualan dan konsumsi alkohol karena kerajaan tersebut berupaya menjadikan pariwisata sebagai pilar rencana diversifikasi ekonominya [Getty]

RIYADH (Arrahmah.id) - Arab Saudi telah mulai memperluas akses terhadap alkohol, dengan mengizinkan pemegang izin tinggal khusus non-Muslim membeli minuman beralkohol dari sebuah toko di Riyadh yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi diplomat asing, menurut laporan media AS, Semafor.

Dalam beberapa hari terakhir, pemegang izin tinggal premium dilaporkan sudah dapat membeli alkohol dari toko yang berada di kawasan diplomatik tersebut, kata beberapa pengunjung kepada Semafor. Pemerintah belum mengumumkan perubahan ini secara resmi, dan para pelanggan mengaku mengetahui kebijakan itu hanya melalui informasi informal.

Langkah ini menjadi perkembangan terbaru dari upaya pemerintah untuk menata secara resmi penjualan dan konsumsi alkohol, seiring ambisi kerajaan mengubah sektor pariwisata menjadi pilar utama strategi diversifikasi ekonominya.

Arab Saudi menargetkan kedatangan 150 juta wisatawan per tahun pada 2030 dan tengah berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan hotel serta kawasan hiburan. Meski demikian, negara ini masih kesulitan bersaing dengan negara-negara Teluk lainnya dalam menarik wisatawan.

Toko alkohol di Riyadh tersebut dibuka tahun lalu khusus untuk diplomat asing, sebagai pusat suplai alkohol yang sebelumnya mereka dapatkan melalui pengiriman pribadi untuk stok konsumsi mereka.

Program izin tinggal premium (premium residency) diluncurkan Arab Saudi pada 2019 untuk menarik pekerja berpendapatan tinggi dan para investor asing. Sejak itu, kriterianya diperluas, sehingga kini memungkinkan ekspatriat yang berpenghasilan lebih dari 80.000 riyal (sekitar 21.000 dolar) per bulan atau bekerja di profesi tertentu untuk mendapatkan izin tersebut.

Menurut Semafor, Arab Saudi “terus bergerak secara bertahap” memperluas akses terhadap alkohol, berusaha menyeimbangkan antara upaya melonggarkan citra konservatif historisnya dan kewajiban menjaga larangan alkohol dalam Islam serta peranannya sebagai penjaga dua kota suci.

Selama beberapa dekade, banyak ekspatriat yang bukan diplomat meracik bir, wine, atau minuman keras sendiri di rumah, sementara penegakan hukum terhadap hal tersebut cenderung longgar selama tidak diperjualbelikan atau dipakai dalam pesta besar.

Alkohol juga kabarnya disajikan di rumah-rumah keluarga Saudi terkemuka, pejabat, dan kalangan bankir, sebagaimana pernah dilaporkan The New York Times.

Rumor pelonggaran aturan alkohol yang lebih luas telah beredar sekitar lima tahun terakhir. Banyak hotel dan restoran sudah dilengkapi bar yang menyajikan koktail non-alkohol dan bir bebas alkohol.

Semafor mencatat bahwa dengan memperluas hak pembelian kepada kelompok kecil ekspatriat non-Muslim tertentu, pemerintah dapat menampilkan dirinya lebih ramah terhadap talenta asing yang semakin dibutuhkan dalam transformasi ekonomi, sambil tetap mempertahankan kontrol ketat atas penjualan alkohol.

Pertengahan 2010-an menandai periode perubahan sosial besar di Arab Saudi di bawah program Visi 2030 Putra Mahkota Mohammed bin Salman, termasuk pencabutan larangan bioskop, izin mengemudi bagi perempuan, dan berbagai pembatasan sosial lainnya.

Sebagai bagian dari perubahan tersebut, kerajaan mulai mempromosikan pariwisata rekreasi selain kunjungan agama, dengan semakin banyaknya acara publik berskala besar dan konser musik. (zarahamala/arrahmah.id)