HASAKAH (Arrahmah.id) -- Koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat (AS) yang memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS) sedang bernegosiasi dengan otoritas Suriah untuk menyerahkan kontrol penuh atas kamp Al-Hol, salah satu fasilitas penampungan terbesar bagi keluarga terduga anggota ISIS di timur laut Suriah.
Al-Hol sebelumnya dikelola oleh pasukan Kurdi di bawah payung Syrian Democratic Forces (SDF) sejak kekalahan teritorial kelompok ISIS, menampung puluhan ribu wanita dan anak yang memiliki hubungan keluarga dengan anggota ISIS serta sebagian tahanan terduga.
Dilansir The Guardian (21/1/2026), negosiasi ini mencerminkan perubahan besar dalam kontrol wilayah dan fasilitas strategis di Suriah seiring dengan penarikan bertahap SDF dari sejumlah pos penting, termasuk kamp penampungan dan wilayah yang kini diambil alih oleh tentara pemerintah Suriah sementara.
Langkah itu juga mengikuti kesepakatan gencatan senjata dan integrasi antara pemerintah Suriah dan SDF, yang memberikan landasan bagi transisi administratif dan keamanan di banyak wilayah di timur laut negara itu.
Sumber Suriah menyatakan, pembicaraan tersebut juga menargetkan mengurangi potensi kekacauan di Al-Hol, di mana ribuan penghuni ditahan tanpa proses hukum formal dan telah menjadi titik perhatian komunitas internasional karena risiko radikalisasi dan pelarian massal.
Al-Hol bukan satu-satunya kamp yang mengalami perubahan dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan pemerintah Suriah telah memasuki fasilitas penahanan lain setelah SDF menarik pengawalnya, memicu kekhawatiran akan kebangkitan sel-sel militan dan tantangan keamanan di kawasan.
Koalisi pimpinan AS belum mengeluarkan pernyataan resmi tentang negosiasi ini. Namun, keputusan untuk menyerahkan kamp kepada pemerintah Suriah menandai pergeseran peran AS dan sekutunya di wilayah tersebut, di mana Washington telah menurunkan dukungan langsungnya kepada SDF sambil tetap memantau situasi keamanan secara keseluruhan.
Pemerintah Suriah sendiri telah menyatakan niatnya untuk sepenuhnya mengendalikan fasilitas penahanan dan kamp penampungan, dengan alasan stabilisasi dan penegakan hukum terhadap mantan militan ISIS dan keluarga mereka.
Namun, langkah tersebut mendapat sorotan oleh kelompok HAM internasional yang menyerukan perlindungan hak asasi tahanan serta transparansi dalam proses yang terjadi di Al-Hol. (hanoum/arrahmah.id)
