RIYADH (Arrahmah.id) -- Sejumlah pakar astronomi internasional mengkritik klaim penampakan hilal di Arab Saudi pada 17 Februari 2026, menyebutnya mustahil secara ilmiah, karena pada saat itu bulan baru (new moon) baru berusia sekitar 1 jam 49 menit, jauh di bawah batas usia yang secara rekam astronomi pernah terlihat baik oleh mata telanjang maupun dengan alat optik.
Dilansir Morocco World News (18/2/2026), para ahli astronomi global menilai klaim tersebut tidak konsisten dengan fakta fisik orbit Bulan. Berdasarkan prediksi posisi Bulan dan Matahari pada tanggal itu, bulan baru (conjunction) terjadi pada hari yang sama sehingga umur bulan sabit yang diklaim terlihat hanya sekitar 1 jam 49 menit, sebuah usia yang secara astronomi tidak mungkin menghasilkan cahaya sabit yang cukup untuk dideteksi oleh mata atau teleskop.
Berdasarkan catatan dan penelitian astronomis, menurut Moonsighting.com, rekor dunia penampakan hilal termuda yang mampu dilihat oleh mata telanjang adalah sekitar 15 jam 32 menit setelah new moon, seperti yang dicatat oleh pengamat terkenal Stephen James O’Meara dalam observasi spektakuler pada 1990. Observasi yang mampu terlihat dengan alat optik seperti teropong atau teleskop telah dilaporkan pula pada usia sekitar 11 jam 40 menit setelah new moon, sebuah rekor yang sulit ditandingi.
Para astronom menyebut faktor utama visibilitas hilal mencakup umur bulan, ketinggian di atas ufuk setelah matahari terbenam, dan elongasi sudut antara Bulan dan Matahari. Pada kasus 17 Februari 2026, nilai-nilai ini berada di bawah ambang yang biasanya diperlukan untuk visibilitas hilal, bahkan dengan alat bantu optik canggih sekalipun — terutama karena Bulan hampir langsung berada dalam fase baru (tidak ada cahaya yang dipantulkan yang cukup besar).
Laporan astronomi dari Times of India dan media global lainnya menunjukkan bahwa prediksi ilmiah untuk Ramadan 2026 cenderung menunjuk bahwa hilal secara visual tidak mungkin terlihat pada hari tersebut di wilayah Arab atau bahkan di belahan lain dunia, dan beberapa komunitas Islam di luar Saudi telah memilih tanggal berbeda untuk memulai Ramadan berdasarkan perhitungan hisab dan kriteria visibilitas yang lebih konservatif.
Perbedaan antara hasil rukyat (laporan observasi lokal) dan hisab astronomis sering kali memicu perdebatan di kalangan ilmuwan dan otoritas keagamaan, terutama ketika pengamatan dianggap bertentangan dengan batas-batas visibilitas yang dipahami secara ilmiah. Dalam kasus ini, banyak astronom telah lebih dari 10 tahun terakhir kerap berselisih paham dengan pengakuan penampakan hilal di Arab Saudi. Menurut mereka, pengakuan penampakan new moon di Arab saudi tidak sedikit yang didasarkan pada usia Bulan yang sangat muda. (hanoum/arrahmah.id)
