GAZA (Arrahmah.id) - Meski dibatasi oleh sensor ketat 'Israel', Hagai Angerst, ayah dari tentara 'Israel' Matan Angerst, membagikan kisah penawanan putranya dan bagaimana para pejuang perlawanan memperlakukannya dengan manusiawi dalam wawancara dengan Channel 2.
“Dia berdoa tiga kali sehari menggunakan siddur (kitab doa Yahudi) yang dia minta dan diterima dari seorang pejabat Hamas,” kata Angerst.
Ia menambahkan bahwa putranya sempat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. “Kondisinya memang berat, dia adalah seorang tentara yang pernah bertempur melawan mereka,” ujarnya.
Namun, Angerst mengungkapkan bahwa putranya “bisa memilih makanan dari yang tersedia.”
Sebelumnya, beberapa tawanan 'Israel', baik tentara maupun warga sipil, juga mengonfirmasi dalam berbagai wawancara bahwa para pejuang Hamas memperlakukan mereka secara baik dan manusiawi. Mereka menyebut para pejuang itu bahkan lebih takut terhadap serangan udara 'Israel' ketimbang mencelakai para tawanan.
Mantan tawanan perempuan juga menceritakan bahwa mereka sempat terlibat percakapan hangat dengan para penjaga mereka dari pihak perlawanan.
Sejak kelompok pertama tawanan dibebaskan, otoritas 'Israel' mulai memberlakukan pembatasan ketat terhadap pernyataan publik dari mereka yang telah dibebaskan. Langkah ini diambil setelah munculnya kesaksian awal yang menyoroti perlakuan manusiawi oleh pihak perlawanan, sesuatu yang jelas bertentangan dengan propaganda resmi 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)
