Memuat...

Belum menikmati listrik,konversi minyak tanah ke LPG "redupkan" penerangan warga

Rasul Arasy
Kamis, 23 Juni 2011 / 22 Rajab 1432 14:50
Belum menikmati listrik,konversi minyak tanah ke LPG "redupkan" penerangan warga
Belum menikmati listrik,konversi minyak tanah ke LPG "redupkan" penerangan warga

NGABANG, KALBAR (Arrahmah.com) – Di era millennium dan pasar global, yang katanya segala serba instan dan canggih membuat manusia bisa melakukan apapun tanpa dibatasi ruang dan waktu. Sayangnya kehebatan teknologi tersebut hanya dirasakan oleh sebagian kecil orang saja. Pasalnya, ketika pemerintah berniat "menyukseskan" konversi minyak tanah ke LPG sebagai tuntutan pasar global, masyarakat di wilayah pedalaman Kalimantan Barat masih memerlukan minyak tanah bersubsidi karena masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama untuk lampu penerangan.

"Warga masih perlu minyak tanah untuk bahan bakar penerangan karena belum ada listrik," ungkap Wakil Ketua DPRD Landak, Markus Amid, saat dihubungi di Ngabang terkait keluhan masyarakat atas sulitnya mendapatkan minyak tanah, Kamis (23/6/2011).

Markud mesjelaskan, meskipun konversi minyak tanah ke LPG sudah diprogramkan pemerintah. Namun masyarakat masih membutuhkan minyak tanah bersubsidi bukan untuk kebutuhan kompor tapi untuk pelita karena belum ada listrik.

"Kalau memang pemerintah belum mampu memberi fasilitas penerangan listrik bagi masyarakat pedalaman, maka minyak tanah bersubsidi masih perlu diberlakukan atau memberi fasilitas lampu berbahan bakar LPG," katanya.

Ia menegaskan, selama ini konversi minyak tanah ke gas hanya dinikmati masyarakat di perkotaan. Tapi kalau masyarakat di pedalaman tetap belum merdeka.

Warga sekarang kesulitan mencari minyak tanah. Kalau ada pun harganya mahal karena tak disubsidi lagi oleh pemerintah. Padahal anak-anak mereka perlu penerangan di malam hari saat belajar atau mengerjakan tugas sekolah.

Bahkan untuk aktivitas dapur warga umumnya menggunakan kayu bakar, jadi LPG sebenarnya belum dibutuhkan oleh mereka. Sehingga perlu ada perhatian khusus dari pemerintah soal subsidi minyak tanah ini.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Landak Andi Ali mengaku subsidi minyak tanah di Kabupaten Landak sudah dicabut oleh pemerintah. Hal tersebut terkait program pemerintah untuk konversi minyak tanah ke LPG.

"Bahkan kami sudah mengajukan kepada pemerintah pusat untuk memberikan bantuan juga lampu LPG. Karena masyarakat Landak khususnya di pedalaman masih membutuhkan, karena tak ada listrik PLN, jadi saat ini pakai pelita dengan bahan bakar minyak tanah," tandas Andi.

Niatnya menjadi negara maju di mata Internasional, tetapi kalau pembangunan tidak merata, program apapun dalam rangka mensejahterakan rakyat malah menjadi boomerang bagi rakyat yang belum tersentuh "oleh pembangunan". Yang ada mereka menjadi tersiksa dan tak bahagia lantaran program pemerintah tak berpihak pada kondidi nyata kehidupan masyarakat.  (ans/rasularasy/arrahmah.com)