RIYADH (Arrahmah.id) - Seiring meningkatnya ketegangan antara Kabul dan Islamabad dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah sumber mengonfirmasi bahwa delegasi tingkat tinggi dari Imarah Islam Afghanistan telah berkunjung ke Arab Saudi; sebuah kunjungan yang dipandang banyak pihak sebagai upaya baru untuk memecahkan kebuntuan politik antara kedua negara tetangga tersebut.
Menurut informasi yang diperoleh, anggota kunci delegasi tersebut antara lain Anas Haqqani, anggota senior Imarah Islam; Rahmatullah Najib, Wakil Menteri Dalam Negeri; dan Abdul Qahar Balkhi, juru bicara Kementerian Luar Negeri.
Sumber juga menyatakan bahwa delegasi Pakistan telah tiba di Riyadh secara bersamaan, sementara Arab Saudi mengambil peran mediasi aktif dalam putaran perundingan ini, sebuah peran yang dapat membuka jalan baru bagi dimulainya kembali dialog antara Kabul dan Islamabad, lansir Tolo News (2/12/2025).
Hassan Mubarak Azizi, mantan Menteri Transportasi dan Penerbangan Sipil di pemerintahan Afghanistan sebelumnya, berkomentar: “Sebagaimana Qatar berperan penting di masa lalu, kini Arab Saudi dan UEA menjadi pemain kunci. Saya yakin negara-negara ini dapat memainkan peran yang lebih baik. Hanya ada sedikit harapan bahwa perundingan dengan Pakistan saja akan membuahkan hasil atau menormalisasi hubungan.”
Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari pejabat Afghanistan, Pakistan, maupun Saudi mengenai kunjungan tersebut atau detail konsultasi. Namun, terpilihnya Arab Saudi sebagai tuan rumah membawa implikasi regional yang signifikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Riyadh telah berupaya mengambil peran yang lebih aktif dalam memediasi konflik regional, dan putaran dialog ini dapat menjadi ujian penting bagi pengaruh politik Arab Saudi dalam membina stabilitas antara kedua negara tetangga.
Analis politik Hemayatullah Ahmadi berpendapat: “Arab Saudi, sebagai negara Islam terkemuka, dapat memainkan peran yang kuat dan berpotensi menjadi mediator terbaik antara Afghanistan dan Pakistan.”
Dalam beberapa pekan terakhir, retorika keras dari pejabat Pakistan, ancaman aksi militer, dan kekhawatiran keamanan bersama telah membuat hubungan Kabul-Islamabad semakin rapuh.
Pakistan telah berulang kali menuduh Afghanistan, sementara Imarah Islam telah menekankan bahwa tekanan dan ancaman tidak akan membuahkan hasil, menegaskan bahwa dialog adalah satu-satunya solusi.
Abdul Sadiq Hamidzoy, analis politik lainnya, mengatakan: "Merupakan tanggung jawab semua negara untuk menangani masalah dengan hati-hati, rasional, dan berdasarkan kepentingan bersama, untuk mencegah ketidakstabilan di kawasan."
Kunjungan ini dilakukan setelah tiga putaran perundingan antara delegasi Afghanistan dan Pakistan diadakan di Doha dan Istanbul selama dua bulan terakhir, yang dimediasi oleh Turki dan Qatar. Namun, putaran ketiga dilaporkan berakhir tanpa hasil karena apa yang digambarkan oleh pejabat Afghanistan sebagai "tuntutan Pakistan yang tidak masuk akal." (haninmazaya/arrahmah.id)
