GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah drone yang diluncurkan dari Yaman berhasil menghantam Bandara Ramon di Naqab (Negev), 'Israel', pada Ahad (7/9/2025), meski sebelumnya militer 'Israel' mengklaim sudah mencegat tiga drone dari arah yang sama.
Tim medis 'Israel' mengonfirmasi seorang pria mengalami luka sedang di bagian kaki dan tangan ketika drone menghantam area ruang tunggu penumpang bandara.
Awalnya, militer 'Israel' hanya mengumumkan pencegatan tiga drone. Namun, belakangan mereka mengakui ada “drone keempat” yang lolos dan jatuh tepat di sekitar Bandara Ramon. Menurut mereka, tak ada sirene peringatan yang berbunyi saat insiden terjadi, dan kasus ini masih diselidiki.
Radio Militer 'Israel' mengutip sumber yang menyebut drone itu langsung menghantam ruang tunggu penumpang. Hal yang sama juga dilaporkan Israel Hayom, sementara Otoritas Penyiaran 'Israel' menyebut ada dua orang yang terluka akibat jatuhnya drone tersebut.
Sejak pembunuhan beberapa pemimpin Ansarallah di Sana’a pada 28 Agustus lalu, militer 'Israel' mencatat setidaknya delapan rudal balistik dan tujuh drone telah ditembakkan dari Yaman.
Sebelum serangan ke Bandara Ramon, Komando Home Front 'Israel' sempat mengumumkan sirene peringatan berbunyi di kawasan Nitzana dekat perbatasan Mesir. Channel 12 melaporkan tiga drone dari Yaman terdeteksi melintas lewat Sinai menuju 'Israel'. Sekitar satu jam kemudian, militer mengklaim berhasil mencegat tiga di antaranya, dua bahkan sebelum masuk ke wilayah 'Israel'.
Hingga berita ini ditulis, Ansarallah belum menyatakan tanggung jawab atas peluncuran drone Ahad itu. Namun, kelompok tersebut secara konsisten menyerang 'Israel' dengan drone dan rudal balistik, termasuk menargetkan kapal-kapal dagang yang terkait dengan Tel Aviv. Mereka menegaskan aksinya adalah bentuk dukungan untuk perlawanan Palestina serta balasan atas pembantaian 'Israel' di Gaza.
Ansarallah juga berjanji akan melancarkan balasan “menyakitkan” atas pembunuhan Perdana Menteri mereka, Ahmed Ghaleb al-Rahwi, bersama beberapa menteri lain dalam sebuah serangan bom di Sana’a, 28 Agustus lalu.
Pasca-serangan itu, 'Israel' memperketat pengamanan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang kini berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan kejahatan perang di Gaza, serta sejumlah pejabat senior lainnya. (zarahamala/arrahmah.id)
