GAZA (Arrahmah.id) - Enam warga Palestina tewas pada Rabu (26/11/2025) akibat tembakan pasukan 'Israel' di area yang berada dalam apa yang dikenal sebagai Garis Kuning di Jalur Gaza, sementara militer pendudukan mengklaim telah membunuh sejumlah pejuang dan menahan dua lainnya di Rafah, wilayah selatan Gaza.
Dalam perkembangan terbaru dari terus berlanjutnya penargetan warga sipil di Gaza, meskipun perjanjian gugurnya seorang warga Palestina akibat serangan 'Israel' di Kamp Maghazi.
Sumber medis di Rumah Sakit Nasser juga melaporkan bahwa seorang warga Palestina tewas dan satu lainnya luka-luka dalam serangan 'Israel' di Kota Bani Suheila di Khan Younis, yang berada di dalam Garis Kuning.
Sementara itu, Menteri Pertahanan 'Israel', Israel Katz, mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk “menghancurkan dan menghapus” seluruh terowongan Hamas di Jalur Gaza “hingga yang terakhir.”
Dalam pernyataan yang diunggah di X, Katz mengatakan, “Jika tidak ada terowongan, maka tidak ada Hamas.” Ia menegaskan bahwa apa yang disebut “perlucutan senjata Gaza” mencakup penghancuran total jaringan terowongan tersebut, dan menyebut hal itu sebagai “prioritas utama di zona kuning yang berada di bawah kendali 'Israel',” yang mencakup sekitar 53 persen wilayah Gaza.
Gerakan Perlawanan Palestina, Hamas, mengecam pengejaran dan pembunuhan para pejuangnya yang terjebak di terowongan Rafah, dan menyebutnya sebagai pelanggaran jelas terhadap perjanjian gencatan senjata.
Dalam pernyataannya pada Rabu (26/11), Hamas mengatakan bahwa “pengejaran, pembunuhan, dan penangkapan para mujahidin yang terkepung di terowongan Rafah” merupakan bukti kuat adanya upaya berkelanjutan untuk melemahkan dan menghancurkan gencatan senjata.
Hamas menambahkan bahwa selama sebulan terakhir mereka telah berdialog dengan para pemimpin politik dan mediator untuk menyelesaikan situasi tersebut dan memungkinkan para pejuang kembali ke rumah mereka, dengan mengajukan sejumlah proposal dan mekanisme tertentu.
Gerakan itu menyatakan bahwa upaya tersebut dilakukan dengan koordinasi mediator dan pemerintah AS, salah satu penjamin resmi gencatan senjata, namun 'Israel' “menggagalkan seluruh upaya tersebut,” dan memilih “bahasa pembunuhan, kejahatan, pengejaran, dan penangkapan.”
Gerakan itu menegaskan bahwa 'Israel' bertanggung jawab penuh atas nasib para anggotanya dan menyeru para mediator agar “segera menekan pihak pendudukan” untuk mengizinkan mereka kembali. Hamas menyebut para pejuang itu sebagai “contoh pengorbanan, keberanian, kesabaran, serta simbol martabat dan kebebasan rakyat Palestina.”
Perkembangan ini terjadi ketika Gaza terus mengalami bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah perang yang dilancarkan 'Israel' pada 7 Oktober 2023. Serangan yang terus berlangsung telah menyebabkan lebih dari 68.000 orang tewas dan lebih dari 170.000 lainnya terluka, di samping hancurnya hampir 90 persen infrastruktur Gaza serta kelaparan yang telah merenggut ratusan nyawa. (zarahamala/arrahmah.id)
