TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Sekelompok hacker Turki dilaporkan berhasil meretas telepon Menteri Pertahanan 'Israel', Israel Katz. Mereka kemudian menelepon dan menyebarkan nomor teleponnya secara daring untuk ramai-ramai dihubungi.
Menurut laporan media lokal, seperti dilansir Arab News (12/8/2025), Katz menerima panggilan video dari salah satu peretas pada Kamis malam, yang kemudian mengambil tangkapan layar dan mengunggahnya secara daring.
Para peretas juga merilis tangkapan layar beberapa pesan yang dikirim kepada Katz melalui WhatsApp, yang tampaknya berisi hinaan dan ancaman, termasuk "Kami akan membunuhmu."
"Hei Katz, jangan pernah lupakan ini, kematianmu sudah dekat, kami adalah pembela Qassam, kami akan menguburmu dan negaramu dalam sejarah," bunyi salah satu pesan, yang tampaknya merujuk pada sayap bersenjata Hamas.
Media 'Israel' melaporkan bahwa Katz telah menggunakan nomor telepon yang sama selama beberapa tahun dan sebelumnya telah disebarkan di berbagai kelompok. Nomor tersebut kini telah diblokir.
Dalam sebuah unggahan di akun X-nya, Katz mengklaim para peretas tersebut merupakan anggota "geng-geng jihadis-Islamis terorganisasi dari berbagai negara di dunia."
Ia menulis: "Biarkan mereka terus menelepon dan mengancam, dan saya akan terus memerintahkan pemusnahan rekan-rekan pemimpin teroris mereka."
Anggota lain dari partai berkuasa Likud, termasuk Ofir Katz, David Bitan, dan Moshe Saada, juga menjadi sasaran peretas, lapor media Israel pada hari Jumat.
Setelah dilaporkan menerima ratusan panggilan video WhatsApp dari nomor tak dikenal yang tidak mereka jawab, para politisi tersebut juga menerima pesan teks berisi gambar bendera Palestina.
Masih belum jelas apakah para peretas mengakses informasi sensitif, atau apakah pelanggaran tersebut merupakan kerentanan keamanan yang lebih luas.
Pada bulan Agustus 2024, saat menjabat sebagai menteri luar negeri, Katz memicu kontroversi dengan menyerang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di X, menuduhnya mengubah Turki menjadi kediktatoran karena "dukungannya terhadap para pembunuh dan pemerkosa Hamas."
Unggahan tersebut memuat gambar Erdogan yang dihasilkan AI dengan latar belakang Istanbul dan bendera Turki yang terbakar, memicu kemarahan di Turki.
Sejak menjabat sebagai menteri pertahanan pada bulan November, Katz telah memicu kontroversi lebih lanjut dengan dilaporkan mempelopori rencana untuk memenjarakan warga Palestina di tempat yang oleh para kritikus disebut sebagai "kamp konsentrasi" yang dibangun di atas reruntuhan Rafah di Gaza selatan. (hanoum/arrahmah.id)
