GAZA (Arrahmah.id) - Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyatakan bahwa mereka telah menyerahkan semua tawanan tentara 'Israel' yang masih hidup dalam tahanan mereka, serta jenazah-jenazah yang berhasil mereka temukan. Al-Qassam menambahkan bahwa jenazah lain yang tersisa memerlukan peralatan khusus dan upaya besar untuk dapat dievakuasi.
Hamas sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa serangan brutal 'Israel' yang membabi buta menyebabkan tewasnya warga sipil Palestina dan para tawanan tentara 'Israel' yang mereka tahan. Namun, serangan-serangan tersebut tetap berlanjut, bahkan semakin intensif.
Pada Rabu (15/10/2025), Al-Qassam mengonfirmasi bahwa mereka menyerahkan dua jenazah tambahan sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tawanan dan gencatan senjata di Gaza. Media 'Israel' melaporkan bahwa pihak 'Israel' bersiap menerima lima jenazah pada Rabu malam (15/10). Tentara 'Israel' kemudian membenarkan bahwa Palang Merah telah memindahkan dua jenazah dan kini sedang dalam perjalanan menuju pasukan 'Israel' di Gaza.
Pada Senin sebelumnya (13/10), Hamas telah membebaskan 20 tawanan tentara 'Israel' yang masih hidup. Dengan penyerahan hari ini, total jenazah yang diserahkan ke 'Israel' menjadi 10 orang. Al-Qassam menegaskan bahwa mereka masih membutuhkan waktu tambahan untuk mengevakuasi jenazah-jenazah lainnya.
Salah satu jenazah yang diterima 'Israel' dilaporkan tidak cocok dengan data tawanan yang diketahui. Seorang pemimpin perlawanan Palestina mengatakan bahwa jenazah tersebut adalah milik seorang tentara 'Israel' yang ditangkap pada Mei 2024 di Kamp Pengungsi Jabalia, dalam pertempuran langsung dengan pasukan 'Israel', sebelum kemudian dibawa ke dalam terowongan Hamas.
Sebagai imbalannya, 'Israel' telah membebaskan 250 tahanan Palestina yang dijatuhi hukuman seumur hidup dan 1.718 sandera dari Gaza sejak 8 Oktober 2023. 'Israel' juga menyerahkan 90 jenazah warga Palestina yang menunjukkan tanda-tanda eksekusi, penyiksaan, dan bahkan bekas injakan tank.
Pertukaran ini merupakan bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata Gaza yang mulai berlaku pada 10 Oktober. Kesepakatan ini mengikuti rencana yang didukung Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, yang sejak 7 Oktober 2023 secara terbuka mendukung genosida 'Israel' di Gaza. Kampanye tersebut telah menewaskan 67.938 warga Palestina dan melukai 170.169 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Serangan itu juga menyebabkan kelaparan massal, yang menambah korban jiwa sebanyak 463 orang, termasuk 157 anak-anak. (zarahamala/arrahmah.id)
