GAZA (Arrahmah.id) -- Hubungan kelompok terbesar Palestina, Hamas dan Fatah, kembali memanas. Hamas mengecam keras pernyataan Menteri Luar Negeri Palestina Varsen Aghabekian Shahin dari Partai Fatah, yang menyerukan agar kelompok perlawanan itu melucuti senjatanya.
Pernyataan ini sontak mengejutkan Hamas, mengingat agresi 'Israel' masih berlangsung. Menurut mereka, komentar Shahin tidak menunjukkan keberpihakan pada rakyat Palestina dan justru melayani kepentingan pihak lain.
"Pernyataan itu tak melayani kepentingan rakyat kami atau kepentingan nasional," tulis Hamas dalam pernyataan resmi, seperti dikutip dari Al Jazeera (16/8/2025).
Hamas menegaskan, perlawanan dan senjata adalah hak nasional mereka selama pendudukan 'Israel' masih bercokol di tanah Palestina. Mereka hanya bersedia meletakkan senjata jika hak-hak rakyat Palestina dipulihkan sepenuhnya, dan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Dalam kesempatan itu, Hamas juga mendesak Otoritas Palestina (PA) yang dikendalikan Fatah untuk menarik kembali pernyataan kontroversial tersebut. Hamas meminta Fatah untuk berdiri bersama rakyat Palestina dalam melawan 'Israel'.
Menurut Hamas, 'Israel' memiliki agenda besar untuk melenyapkan warga Palestina dan mencaplok seluruh wilayah negara itu.
Kemarahan Hamas ini muncul setelah Shahin menyatakan bahwa Hamas tak akan lagi berkuasa di Gaza dan harus menyerahkan senjatanya ke pemerintahan yang diakui komunitas internasional.
Diketahui, Fatah dan Hamas adalah musuh bebuyutan. Keduanya sama-sama berjuang untuk kemerdekaan Palestina, tetapi dengan jalan dan strategi yang berbeda.
Shahin juga menyerukan pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional dan penarikan penuh tentara 'Israel' dari Jalur Gaza, seperti yang dilaporkan oleh Reuters.
Pernyataan Shahin datang pada saat 'Israel' sedang memulai operasi imperialisme untuk mencaplok Kota Gaza.
Agresi 'Israel' yang dimulai sejak Oktober 2023 telah merenggut lebih dari 61.000 nyawa dan memaksa jutaan orang mengungsi, menjadikan situasi kemanusiaan di Gaza semakin kritis. (hanoum/arrahmah.id)
