JAKARTA (Arrahmah.id) – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melaporkan sebanyak 4.000 siswa menjadi korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam delapan bulan terakhir.
Menyikapi hal ini, Indef mendesak pemerintah menghentikan sementara program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut untuk dilakukan evaluasi menyeluruh.
Kepala Pusat Ekonomi dan UMKM Indef, Izzudin Al Farras, menilai pemerintah tidak seharusnya menganggap ribuan korban keracunan sebagai angka statistik semata.
“Kami mendorong agar setelah dihentikan sementara, kemudian dilakukan evaluasi. Angka keracunan belum mencerminkan persoalan mendasar lain, seperti lemahnya perencanaan dan pengawasan di berbagai daerah,” ujarnya dalam diskusi daring, Kamis (4/9/2025).
Farras menyebut sejumlah temuan lapangan yang memperkuat perlunya evaluasi, mulai dari masalah bahan mentah yang dipasok ke SPPG atau dapur umum, dugaan penggunaan minyak babi pada nampan MBG, hingga praktik mark-up anggaran yang bahkan diakui oleh Badan Gizi Nasional.
Ia menilai, tanpa perbaikan mendasar, rencana pemerintah memperluas cakupan MBG dengan peningkatan anggaran dari Rp71 triliun pada tahun ini menjadi Rp335 triliun dalam APBN 2026 justru berpotensi memperbesar jumlah korban.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan program MBG akan tetap dilanjutkan.
“Bahwa ada berbagai peristiwa, sebagian anak-anak keracunan, mudah-mudahan bisa menjadi bahan evaluasi. MBG sesuai arahan Bapak Presiden tetap akan jalan terus dan secara bertahap akan terus disempurnakan,” ujarnya di Magelang, Jumat (5/9/2025).
Mu’ti menambahkan, pihaknya akan menyiapkan sekolah-sekolah sebagai penerima manfaat program serta melakukan pemeriksaan capaian gizi setelah pelaksanaan MBG.
“Pemeriksaan bisa lintas sektoral dengan Kementerian Kesehatan atau mitra lainnya,” imbuhnya.
Dengan adanya perbedaan pandangan ini, pemerintah kini dihadapkan pada dilema antara menjaga keberlanjutan program prioritas nasional sekaligus menjawab keresahan publik akibat kasus keracunan massal yang terus terjadi.
(ameera/arrahmah.id)
