Memuat...

'Israel' Hancurkan 2.500 Bangunan Gaza Meski Gencatan Senjata Berlaku

Zarah Amala
Selasa, 13 Januari 2026 / 24 Rajab 1447 14:00
'Israel' Hancurkan 2.500 Bangunan Gaza Meski Gencatan Senjata Berlaku
Laporan tersebut mengkonfirmasi bahwa citra satelit menunjukkan 'Israel' telah menghancurkan lebih dari 2.500 bangunan sejak perjanjian gencatan senjata ditandatangani (Reuters).

GAZA (Arrahmah.id)- Sebuah analisis yang dilakukan surat kabar New York Times, berdasarkan citra satelit terbaru dari perusahaan Planet Labs, mengungkap bahwa 'Israel' telah menghancurkan lebih dari 2.500 bangunan sejak penandatanganan perjanjian gencatan senjata, dalam apa yang diklaimnya sebagai operasi untuk menghancurkan terowongan dan rumah-rumah yang dipasangi bahan peledak.

Dalam laporan yang ditulis Samuel Granados, Adam Rasgon, Iyad Abu Hweila, dan Sangam Vargeese, surat kabar tersebut menyebutkan bahwa perjanjian gencatan senjata, yang ditandatangani setelah perang selama dua tahun yang menimbulkan kehancuran besar di Jalur Gaza, sempat membangkitkan harapan warga Palestina akan fase ketenangan dan kesempatan untuk bernafas setelah bombardemen intensif yang menghancurkan sebagian besar kawasan permukiman.

Namun, menurut laporan tersebut, realitas di lapangan menunjukkan bahwa operasi penghancuran terus berlanjut, khususnya di wilayah-wilayah Gaza yang berada di bawah kendali 'Israel'.

Pada Senin (12/1/2026), Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan bahwa jumlah syuhada Palestina akibat genosida Israel sejak Oktober 2023 telah meningkat menjadi 71.419 orang, sementara jumlah korban luka mencapai 171.318 orang.

Penghancuran Berlanjut

Berdasarkan perjanjian tersebut, pasukan 'Israel' mundur ke belakang sebuah garis pemisah di dalam Jalur Gaza yang dikenal sebagai “garis kuning”, yang membuat 'Israel' tetap menguasai sekitar setengah wilayah Gaza.

New York Times melaporkan bahwa data menunjukkan sebagian besar penghancuran terjadi di dalam wilayah-wilayah ini.

Namun, citra satelit juga memperlihatkan penghancuran puluhan bangunan di luar garis tersebut, di area yang seharusnya berada di bawah kendali Hamas, tempat militer 'Israel' sebelumnya berjanji akan menghentikan operasi.

Surat kabar itu menyoroti lingkungan Shuja’iyya di timur Kota Gaza sebagai contoh mencolok skala kehancuran. Citra satelit yang diambil segera setelah penandatanganan perjanjian masih menunjukkan sisa-sisa bangunan yang berdiri, tetapi gambar beberapa bulan kemudian memperlihatkan kawasan itu berubah menjadi lahan hampir kosong, dengan bangunan-bangunan dihancurkan bahkan hingga jarak yang jauh di luar garis pemisah.

Perkiraan menunjukkan bahwa beberapa operasi penghancuran meluas hingga sekitar 900 kaki di luar wilayah kendali 'Israel' yang diumumkan.

Para pengamat menegaskan bahwa lingkungan-lingkungan utuh diratakan tanpa mempertimbangkan nasib penduduk maupun harta benda mereka, terutama karena sebagian besar warga telah mengungsi akibat perintah evakuasi dan pertempuran.

Pejabat 'Israel', menurut laporan tersebut, mengklaim bahwa operasi ini merupakan bagian dari rencana “melucuti senjata Gaza”, dengan alasan menghancurkan jaringan terowongan luas yang digunakan Hamas untuk menyimpan senjata, menyembunyikan tawanan, dan melancarkan serangan.

Namun, New York Times mencatat bahwa warga Palestina dan sejumlah analis menilai apa yang terjadi melampaui kebutuhan keamanan.

Mereka menekankan bahwa kawasan permukiman dihancurkan secara menyeluruh, meskipun para penduduknya telah dipaksa meninggalkan rumah mereka sejak lama.

Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 80% bangunan di Gaza telah rusak atau hancur hingga 11 Oktober.

Surat kabar tersebut juga melaporkan bahwa banyak warga Palestina mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam, dengan para pengungsi mengatakan bahwa sisa-sisa memori kolektif mereka kini perlahan dihapus. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaGazapenghancuran bangunan