GAZA (Arrahmah.id) - Ketegangan terus meningkat terkait proses penyerahan jenazah tawanan 'Israel' di Jalur Gaza, yang kini menghadapi hambatan serius dan ancaman runtuhnya fase kedua dari perjanjian gencatan senjata.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menegaskan komitmennya untuk mengembalikan semua jenazah tawanan 'Israel', sambil memperingatkan bahwa pertempuran belum berakhir, dan bersumpah untuk melanjutkan “semua tujuan perang tanpa kompromi.”
Perang di Gaza dihentikan Sabtu lalu (11/10/2025) setelah seluruh pihak menyetujui rencana perdamaian yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump, yang menetapkan penghentian tembakan, pembukaan jalur bantuan kemanusiaan, serta pertukaran tawanan hidup dan jenazah.
Namun, radio 'Israel' melaporkan bahwa Tel Aviv tidak akan memulai fase kedua perjanjian sebelum semua jenazah tawanannya dikembalikan.
Sikap keras itu muncul setelah Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, menyatakan bahwa mereka telah menyerahkan semua jenazah yang diketahui lokasinya, sementara sisanya tidak dapat diambil karena tidak diketahui posisinya atau karena alasan teknis, termasuk reruntuhan yang membutuhkan alat berat.
Hamas telah menyerahkan semua tawanan hidup pada Senin (13/10), serta 9 dari total 28 jenazah selama beberapa hari terakhir.
Menurut Dr. Mahmoud Yazbek, pakar urusan 'Israel', intelijen 'Israel' memikul tanggung jawab atas kegagalan ini, karena sebelum perang berakhir, media 'Israel' mengklaim ada 19 jenazah yang siap diserahkan, namun Hamas hanya menyerahkan 9, menunjukkan kekacauan informasi dan kegagalan intelijen besar-besaran.
Tekanan dan Ancaman Balasan
Tekanan di Israel terus meningkat, baik dari publik maupun pejabat, untuk memulangkan semua jenazah. Tel Aviv meragukan klaim Al-Qassam, dan menuduh bahwa para komandan Hamas “mengetahui lokasi sisanya.”
Asosiasi Keluarga Tawanan menuntut penghentian seluruh tahapan perjanjian dengan alasan Hamas melanggar komitmennya. Media 'Israel' melaporkan bahwa pemerintah akan mengurangi bantuan kemanusiaan secara drastis jika Hamas tidak menyerahkan sisa jenazah dalam beberapa hari.
Sementara itu, Washington mengambil posisi lebih realistis. Juru bicara Gedung Putih Caroline Leavitt mengatakan bahwa penggalian jenazah membutuhkan waktu dan peralatan khusus, karena banyak di antaranya terkubur jauh di bawah reruntuhan.
AS menegaskan komitmennya untuk membantu semua pihak, mengungkapkan bahwa utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner tengah mengerjakan berkas Gaza, berupaya memecah kebuntuan melalui negosiasi dengan semua pihak.
Permainan Politik Netanyahu
Menurut Dr. Mahjoub Al-Zuweiri, pakar politik Timur Tengah, 'Israel' masih menjalankan strategi yang sama seperti sebelum 7 Oktober, tidak menunjukkan niat untuk berubah atau bekerja sama mencari jenazah, bahkan menolak bantuan tim Turki yang siap turun, menunjukkan bahwa Tel Aviv sengaja memperpanjang status “perang dingin” agar tekanan tetap hidup.
Edward Franco, analis strategi dari Partai Republik AS, menyebut bahwa semua pihak sejak awal tahu sebagian jenazah mustahil ditemukan, dan menuding 'Israel' mengeksploitasi isu ini untuk menekan Hamas dan menunda kemajuan politik.
Sementara Dr. Osama Abu Irshaid, analis politik Palestina-Amerika, menyebut bahwa Netanyahu memainkan “permainan klasiknya”, menggunakan “kartu jenazah” sebagai alasan untuk menegosiasikan ulang perjanjian.
Menurutnya, Netanyahu yang kini diburu ICC sedang mencoba mempengaruhi Donald Trump, agar percaya bahwa Hamas melanggar perjanjian, padahal Washington tahu hambatannya bersifat teknis, bukan politik.
Situasi ini memperumit seluruh fase kedua perjanjian, yang mencakup isu-isu sensitif seperti pelucutan senjata Hamas, pembentukan pasukan penjaga stabilitas, dan Dewan Perdamaian Gaza.
Menurut Abu Irshaid, teks fase kedua disusun dengan celah yang disengaja, agar setiap pihak bisa bermanuver, tetapi 'Israel' bernegosiasi dari posisi pemenang, sedangkan Hamas dari posisi yang tak kalah, menciptakan jurang ekspektasi yang dalam dan berpotensi menggagalkan seluruh proses. (zarahamala/arrahmah.id)
