GAZA (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' melanjutkan operasi penghancuran di Jalur Gaza pada Jumat (7/11/2025), meskipun gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober masih berlangsung.
Menurut laporan Al-Jazeera, tentara 'Israel' melakukan penghancuran rumah di bawah tembakan artileri di wilayah timur Khan Yunis, bagian selatan Gaza.
Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan 'Israel' Yisrael Katz mengumumkan bahwa ia telah memerintahkan militer untuk menghancurkan seluruh jaringan terowongan di Jalur Gaza. Dalam unggahan di X, Katz menegaskan terowongan itu akan “dihancurkan hingga yang terakhir,” dengan alasan bahwa “tanpa terowongan, tidak akan ada Hamas.”
Katz tidak menyebutkan wilayah yang akan menjadi sasaran atau jadwal pelaksanaan perintah tersebut. Instruksinya muncul ketika pasukan 'Israel' terus beroperasi di sebelah timur Garis Kuning, zona yang, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, memisahkan area di bawah kendali militer 'Israel' di timur dan wilayah yang diperuntukkan bagi pergerakan warga sipil Palestina di barat.
Meski demikian, pasukan 'Israel' dilaporkan berulang kali menargetkan warga Palestina di sisi barat garis tersebut melalui serangan artileri dan tembakan langsung, menewaskan serta melukai ratusan orang.
Gencatan senjata menghentikan kampanye militer dua tahun 'Israel' yang dimulai pada 8 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina, melukai 170.000 lainnya, dan menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza.
Sementara itu, media 'Israel' melaporkan bahwa perdebatan politik dan militer tengah berlangsung mengenai nasib puluhan pejuang perlawanan Palestina yang terjebak di dalam sebuah terowongan di Rafah.
Menurut Channel 12, terowongan tersebut berada di sisi Garis Kuning yang dikendalikan 'Israel' dan diyakini menampung 120 hingga 150 anggota Brigade Al-Qassam.
Kepala Staf Angkatan Darat 'Israel' Eyal Zamir dilaporkan menolak opsi evakuasi, dengan menegaskan dalam rapat kabinet bahwa situasi itu “harus berakhir dengan kematian mereka atau penyerahan diri.”
Zamir disebut menegaskan bahwa penyerahan hanya akan diterima jika para pejuang keluar “dengan mata tertutup, hanya mengenakan pakaian dalam, dan tangan terikat,” sebelum dipindahkan ke fasilitas penahanan Sde Teiman.
Ia juga menolak melanjutkan tahap berikutnya dari perjanjian pertukaran tawanan sebelum jasad tentara 'Israel' yang ditahan di Gaza dikembalikan, serta menegaskan bahwa rekonstruksi Gaza tidak boleh dimulai sebelum apa yang ia sebut “pelucutan total senjata” di wilayah tersebut.
Dalam pertemuan yang sama, Katz mengakui bahwa sebelumnya sempat dibahas kemungkinan deportasi terhadap para pejuang yang terjebak, namun ide tersebut dibatalkan setelah ia menuduh Hamas melancarkan serangan selama periode gencatan senjata sebelumnya.
Perkembangan ini terjadi di tengah krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah Gaza.
Kampanye militer 'Israel', disertai pengungsian massal, kehancuran luas, runtuhnya infrastruktur dan layanan publik, serta kelangkaan pangan, air bersih, dan pasokan medis, telah menciptakan kondisi yang menyerupai kelaparan massal.
Organisasi kemanusiaan internasional menyebut situasi di Gaza kini sebagai darurat ekstrem yang masih terus berlangsung, dengan ribuan warga sipil berada di ambang kelaparan dan penyakit akibat blokade total. (zarahamala/arrahmah.id)
