Memuat...

'Israel' Pertimbangkan Kesepakatan Tukar Jenazah dengan Keluar Aman bagi Pejuang Gaza

Zarah Amala
Kamis, 6 November 2025 / 16 Jumadilawal 1447 08:54
'Israel' Pertimbangkan Kesepakatan Tukar Jenazah dengan Keluar Aman bagi Pejuang Gaza
Perlawanan Palestina bersiap membebaskan empat tentara 'Israel' di Gaza. (Foto: Media Militer Qassam)

GAZA (Arrahmah.id) - Kepala Staf Militer 'Israel', Eyal Zamir, menyatakan kesiapan untuk mengizinkan sekitar 200 pejuang bersenjata Palestina keluar dari Rafah. Pertukaran ini dikaitkan dengan upaya pengembalian jenazah tentara 'Israel', Hadar Goldin, yang telah ditahan oleh Brigade al-Qassam sejak 2014.

Menurut sumber 'Israel', langkah tersebut merupakan bagian dari rencana lebih luas untuk memungkinkan keluarnya hingga 200 pejuang dari wilayah yang dikuasai 'Israel' di Jalur Gaza, dengan imbalan pengembalian seluruh jenazah tawanan 'Israel' yang telah meninggal.

Laporan media menyebutkan bahwa para pejuang Hamas diwajibkan untuk menyerahkan senjata mereka terlebih dahulu, dan pasukan 'Israel' hanya akan menjamin jalur aman menuju wilayah yang dikendalikan Hamas setelah penyerahan lebih banyak jenazah tawanan.

Amerika Serikat dilaporkan mendukung fasilitasi jalur aman ini sebagai bagian dari upaya melanjutkan fase berikutnya dari kerangka gencatan senjata, yang selaras dengan rencana Presiden AS Donald Trump.

Mediator menyebutkan bahwa mereka telah memperoleh persetujuan Hamas agar para pejuangnya keluar melalui koridor aman yang ditentukan menggunakan kendaraan Palang Merah, dan kini menunggu persetujuan akhir dari pemerintah 'Israel'. Namun, media 'Israel' melaporkan bahwa kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan mengizinkan jalur aman bagi pejuang Hamas tanpa komitmen perlucutan senjata.

Menteri Keuangan 'Israel', Bezalel Smotrich, secara terbuka menolak usulan tersebut. Ia menyatakan bahwa “tidak ada teroris yang akan meninggalkan Rafah” sebelum semua jenazah tawanan dikembalikan. Smotrich juga menyerukan “pemusnahan total” gerakan Hamas dan pemakaman jenazah tentara 'Israel' di tanah 'Israel'.

Negosiasi ini berlangsung bersamaan dengan konfirmasi identitas jenazah tentara 'Israel', Itay Chen. Kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan identifikasi tersebut setelah Brigade al-Qassam menyerahkan jenazah Chen kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Gaza.

Penyerahan itu mengikuti pengembalian tiga jenazah tawanan militer sebelumnya, termasuk Kolonel Assaf Hamami, perwira berpangkat tertinggi yang ditawan oleh al-Qassam. Dengan teridentifikasinya Itay Chen, 'Israel' kini telah menerima 19 dari total 28 jenazah tawanan yang meninggal dunia.

Proses pengembalian jenazah ini menandai berakhirnya fase pertama perjanjian gencatan senjata yang dimulai pada 10 Oktober. Pencarian sisanya menghadapi kesulitan besar akibat kerusakan masif dari serangan 'Israel', dengan operasi di daerah seperti Shujaiya melibatkan tim teknis Mesir dan ICRC.

Meskipun ada kemajuan diplomatik, serangan 'Israel' terhadap Jalur Gaza masih terus berlangsung sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.

Militer 'Israel' telah melakukan sekitar 200 pelanggaran terhadap gencatan senjata sejak 10 Oktober, menyebabkan ratusan warga Palestina tewas atau terluka, serta menghancurkan banyak bangunan tempat tinggal.

Perang genosida 'Israel' di Gaza sejauh ini menewaskan sedikitnya 68.865 warga Palestina dan melukai 170.670 lainnya. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai 70 miliar dolar AS. (zarahamala/arrahmah.id)