GAZA (Arrahmah.id) - Jenderal purnawirawan 'Israel', Amir Avivi, mengungkapkan bahwa 'Israel' telah menyiapkan lahan di Kota Rafah, selatan Jalur Gaza, untuk membangun kamp pengungsian raksasa bagi warga Palestina. Kamp ini rencananya akan dilengkapi dengan teknologi pengawasan canggih, termasuk sistem pengenal wajah (facial recognition) di setiap pintu masuk dan keluar.
Avivi, yang menjabat sebagai penasihat militer, mengatakan kepada Reuters bahwa kamp tersebut dibangun di area yang terowongannya telah dihancurkan. Ia menjelaskan bahwa lokasi ini akan digunakan untuk menampung warga Palestina yang ingin meninggalkan Gaza menuju Mesir maupun mereka yang memilih tetap tinggal di dalam wilayah kantong tersebut.
Menurut Avivi, kamp tersebut diproyeksikan mampu menampung ratusan ribu orang. Setiap pergerakan warga akan berada di bawah pengawasan langsung militer 'Israel' guna memastikan prosedur keamanan yang ketat. Laporan tersebut juga mengindikasikan keinginan 'Israel' untuk mendorong jumlah warga yang keluar dari Gaza lebih banyak daripada mereka yang diizinkan kembali masuk.
Ismail al-Thawabta, Kepala Kantor Media Pemerintah di Gaza, mengkritik keras proyek tersebut. Ia menyebut rencana pembangunan kamp tersebut hanyalah "kedok untuk pengusiran paksa" (forced displacement) terhadap warga Palestina.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa 'Israel' telah setuju untuk membuka kembali perlintasan Rafah, namun terbatas hanya untuk perlintasan orang (pedestrians). Langkah ini merupakan bagian dari komitmen 'Israel' terhadap rencana perdamaian 20 poin yang diajukan Presiden AS Donald Trump.
Jalur perbatasan Rafah dijadwalkan kembali beroperasi paling lambat Kamis (29/1/2026) atau awal pekan depan. Berdasarkan rincian teknis, operasional perlintasan akan dijalankan oleh staf Palestina non-Otoritas Palestina dengan pengawasan langsung dari delegasi Uni Eropa.
Terkait aspek keamanan, militer 'Israel' tetap memberlakukan prosedur ketat yang mencakup pemeriksaan tambahan di area gerbang utama. Selain itu, badan intelijen Shin Bet akan melakukan penyaringan keamanan akhir terhadap seluruh individu yang melintasi perbatasan tersebut.
Pembukaan kembali perlintasan ini merupakan salah satu poin utama dalam fase pertama perjanjian gencatan senjata yang ditandatangani 10 Oktober lalu. 'Israel' sebelumnya menunda pembukaan ini dan mengaitkannya dengan pengembalian seluruh jenazah tawanan mereka. Dengan ditemukannya jenazah terakhir tentara 'Israel' pada Senin (26/1), hambatan utama pembukaan jalur ini dianggap telah hilang. (zarahamala/arrahmah.id)
