Memuat...

Pengacara Ungkap Kondisi Brutal Tawanan Wanita Palestina di Penjara 'Israel'

Zarah Amala
Rabu, 28 Januari 2026 / 10 Syakban 1447 10:45
Pengacara Ungkap Kondisi Brutal Tawanan Wanita Palestina di Penjara 'Israel'
Tentara 'Israel' saat penangkapan janda syuhada Yahya Ayyash (media sosial)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Pengacara Hassan Abbadi mengungkap detail mengerikan mengenai kondisi sekitar 50 tawanan wanita Palestina yang ditahan di penjara-penjara 'Israel', khususnya di Penjara Damon. Dalam kesaksiannya, Abbadi menyebut para tawanan tersebut tengah menghadapi salah satu fase paling kelam dalam sejarah gerakan tawanan.

Abbadi menjelaskan bahwa para tawanan wanita mengalami isolasi hampir total dari dunia luar. Mereka dilarang menerima kunjungan keluarga serta tidak diperbolehkan memiliki akses terhadap radio maupun televisi. Kondisi ini diperparah dengan situasi lingkungan yang ekstrem di Penjara Damon yang terletak di wilayah pegunungan.

Menurut laporan Abbadi, pihak otoritas penjara telah memasang kamera pengawas 24 jam di dalam sel-sel tahanan, bahkan hingga ke ruang perawatan medis. Hal ini dinilai sebagai pelanggaran privasi berat yang menyebabkan gangguan psikologis bagi para tawanan.

Selain itu, pasukan penjara dilaporkan sering melakukan razia dengan alasan sepele, seperti menyita garpu plastik yang digunakan tawanan untuk menyisir rambut atau sendok plastik yang digunakan untuk memotong sayuran.

Salah satu kasus paling mencolok adalah yang dialami oleh Hiam Ghazal, janda dari tokoh Palestina Yahya Ayyash. Abbadi mengungkapkan bahwa Ghazal diserang oleh unit khusus "Yamaz" menggunakan granat suara dan senjata.

Ghazal bersaksi bahwa dirinya ditampar sebanyak 120 kali oleh 120 tentara yang berbeda. Setiap tentara yang memukulnya dilaporkan mengambil foto selfie bersama Ghazal yang dalam kondisi terikat hingga ia jatuh pingsan akibat penyiksaan tersebut.

Abbadi juga mendokumentasikan kebijakan "penggeledahan telanjang" yang dilakukan secara paksa oleh sipir wanita di bawah ancaman kamera atau kehadiran sipir pria. Dalam satu kasus, seorang tawanan muda dilaporkan dipaksa menjalani penggeledahan merendahkan ini sebanyak 14 kali.

Juru bicara Klub Tawanan Palestina, Muzaffar Dhauqan, menyatakan bahwa apa yang terjadi di dalam penjara sejak Oktober 2023 adalah "genosida senyap." Ia mencatat sekitar 100 tawanan telah meninggal dunia dalam tahanan, dengan 87 di antaranya telah teridentifikasi identitasnya.

Saat ini, Klub Tawanan Palestina bersama Kementerian Kehakiman dan Liga Arab tengah mendokumentasikan seluruh pelanggaran ini untuk diajukan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mahkamah Internasional (ICJ) guna menuntut pertanggungjawaban pihak 'Israel' atas dugaan kejahatan perang. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlinePalestinapendudukanpenjara israeltawanan wanita