(Arrahmah.id) – Sejak detik pertama dimulainya agresi “Israel” terhadap Gaza, menjadi jelas bahwa pertempuran bukan hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di medan kesadaran, narasi, dan kebenaran itu sendiri. Penjajah tidak hanya puas dengan pengeboman, kelaparan, dan penghancuran, tetapi juga berupaya sekuat tenaga untuk mengaburkan fakta serta mencegah kata-kata yang jujur menembus ke dunia luar.
Gerbang Gaza ditutup rapat bagi media internasional. Mereka memberlakukan pengepungan ganda: pengepungan terhadap manusia dan pengepungan terhadap informasi. Para jurnalis asing dilarang masuk, sementara jurnalis lokal hidup di bawah hujan bom tanpa perlindungan, tanpa jaminan keselamatan—bahkan menjadi target yang disengaja.
Jurnalis Palestina di Gaza telah membuktikan bahwa mereka adalah prajurit garis depan dalam pertempuran mengungkap kebenaran. Dengan suara, gambar, dan kata-kata, mereka mendokumentasikan kejahatan di hadapan mesin militer yang memiliki kekuatan tembakan sekaligus kekuatan propaganda.
Namun, penjajah memahami bahaya yang ditimbulkan oleh para prajurit tak bersenjata ini. Karena itu, mereka menempatkan para jurnalis di garis bidik, lalu membenarkan kejahatan terhadap mereka dengan kebohongan murahan dan tuduhan yang sudah disiapkan.
Hari ini, penjajah menambah satu lagi kejahatan dalam daftar hitamnya: membunuh jurnalis Anas asy-Syarif, koresponden Al Jazeera yang dikenal profesional dan berani.
Anas tidak membawa senjata selain kamera. Ia tidak berjuang dengan peluru, melainkan dengan kata-kata kebenaran. Namun, di mata penjajah, ia adalah ancaman yang harus dibungkam. Mengapa? Karena mereka membunuh jurnalis ketika mereka gagal membunuh kebenaran yang dibawanya.
Anas pernah ditangkap sebelumnya, lalu dibebaskan. Setelah itu ia diancam: jika tidak diam, ia akan dibunuh. Dan itulah yang akhirnya terjadi.
Pembunuhan ini bukanlah insiden tunggal atau kesalahan tak disengaja, melainkan bagian dari kebijakan yang konsisten. Menurut organisasi hak asasi internasional, sejak Oktober 2023 hingga kini, ratusan jurnalis dan pekerja media telah gugur di Gaza. Reporters Without Borders dan Committee to Protect Journalists menyebutnya sebagai serangan paling mematikan terhadap jurnalis dalam sejarah konflik modern.
Angka-angka mengerikan ini mencerminkan niat yang jelas: membungkam saksi-saksi kejahatan, mencegah pendokumentasian, dan menakut-nakuti siapa pun yang mencoba menyampaikan kebenaran.
Apa yang terjadi di Gaza adalah ujian nyata bagi masyarakat internasional: Apakah dunia akan berdiam diri di hadapan kejahatan ganda—pembunuhan terhadap warga sipil sekaligus pembunuhan terhadap mereka yang mencoba mendokumentasikan tragedi ini? Apakah dunia rela jika perlindungan jurnalis hanya menjadi slogan kosong dalam hukum internasional?
Dengan tegas saya katakan: kejahatan-kejahatan ini tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Pembunuhan Anas asy-Syarif dan seluruh jurnalis yang gugur adalah pembunuhan terhadap hak setiap manusia untuk mengetahui kebenaran, sekaligus pembunuhan terhadap bahan mentah yang menjadi dasar keadilan.
Kami menuntut investigasi internasional yang independen dan transparan atas setiap kasus pembunuhan jurnalis di Gaza, serta menghukum setiap pihak yang memerintahkan, melaksanakan, atau membenarkan kejahatan ini. Kami juga menyerukan kepada PBB dan lembaga media dunia untuk memikul tanggung jawab melindungi jurnalis—bukan hanya dengan pernyataan, tetapi dengan tekanan nyata dan mekanisme akuntabilitas yang tegas.
Penjajah mungkin berpikir bahwa dengan membunuh jurnalis, mereka dapat menutup berkas kebenaran. Mereka salah. Kebenaran tidak bisa dibunuh—justru akan semakin tersebar. Darah para jurnalis syahid menulis bab baru dari kisah rakyat yang menolak dihapus dari ingatan sejarah.
Anas asy-Syarif memang telah pergi, tetapi kata-kata dan gambar-gambarnya akan tetap hidup, menjadi saksi bahwa di Gaza masih ada orang-orang yang berdiri menentang maut demi berkata kepada dunia: Kami ada di sini, dan inilah kebenarannya.
Artikel opini politik ini diterjemahkan dari Al Jazeera Arabic berjudul "الصحفي الشجاع الذي أقلق إسرائيل" (Ash-Shahafiy asy-Syujā‘ alladzī Aqlaqa Isrā’īl, Jurnalis Pemberani yang Membuat “Israel” Gelisah).
(*/arrahmah.id)
