GAZA (Arrahmah.id) - Seorang penembak jitu 'Israel' yang bertugas di Gaza mengaku mendapat perintah langsung untuk menembak warga sipil kelaparan yang sedang mencari bantuan, meski jelas tidak menimbulkan ancaman. “Aku bahkan tidak tahu berapa banyak yang sudah kubunuh. Banyak anak-anak,” katanya. “Para perwira tidak peduli kalau anak-anak mati.”
Dalam wawancara dengan harian Haaretz, seorang prajurit aktif bernama Yoni dari Brigade Nahal menceritakan insiden di Beit Lahiya pada Mei lalu, saat pasukan menembaki anak-anak. Kala itu, sesama tentara berteriak, “Teroris! Teroris!” dan Yoni pun menghujani mereka dengan peluru dari senapan mesin Negev.
“Begitu maju ke depan, aku sadar itu kesalahan,” kisahnya. “Aku lihat dua jasad anak kecil, mungkin usia delapan atau sepuluh tahun. Tubuh mereka penuh luka tembak, berlumuran darah. Aku ingin muntah. Tapi tak lama kemudian komandan datang dengan wajah dingin, dan berkata, ‘Mereka masuk zona tembak. Itu salah mereka. Begitulah perang.’”
Sementara itu, Beni, penembak jitu lain di Nahal, mengungkapkan bahwa pasukan membuat “garis tak terlihat” di depan titik distribusi bantuan di Gaza utara.
“Kalau warga menyeberang garis itu, aku bisa menembak mereka,” ujarnya. “Seperti main kucing-kucingan. Mereka mencoba mendekat dari berbagai arah, dan aku di situ dengan senapan runduk, sementara perwira berteriak: ‘Tembak! Habisin!’ Aku bisa menembakkan 50–60 peluru sehari. Aku sudah berhenti menghitung. Aku tidak tahu berapa banyak yang sudah kubunuh. Banyak. Anak-anak juga.”
Ia mengaku dipaksa, bahkan diancam, untuk menembak warga sipil yang hanya ingin mendapat makanan.
“Komandan batalion menjerit lewat radio: ‘Kenapa kau belum menembak? Mereka mendekat! Itu berbahaya!’” katanya. “Para perwira tidak peduli anak-anak mati. Mereka juga tidak peduli dampaknya pada mental saya. Bagi mereka, saya hanya alat.”
Kini, Beni mencoba keluar dari militer. “Aku tidak percaya pada perwira, tidak percaya pada pemerintah. Aku hanya ingin meninggalkan tentara dan memulai hidupku.”
Menurut PBB, sedikitnya 859 warga Palestina tewas saat berusaha mendapatkan bantuan di lokasi distribusi GHF (Gaza Humanitarian Foundation), antara 27 Mei hingga 31 Juli 2025. Sebagian besar ditembak pasukan 'Israel'. 514 lainnya dibunuh di sepanjang jalur konvoi makanan.
Human Rights Watch menyebut kondisi ini sebagai hasil langsung dari “penggunaan kelaparan sebagai senjata perang oleh 'Israel', sebuah kejahatan perang.” HRW menambahkan, 'Israel'dengan sengaja menahan bantuan, menghancurkan layanan dasar, dan melakukan tindakan yang masuk kategori kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pemusnahan, serta genosida.
Baik warga Gaza maupun PBB menggambarkan titik distribusi bantuan itu sebagai “jebakan maut massal” dan “rumah jagal.”
Sejak GHF beroperasi pada Mei, laporan penembakan hampir setiap hari terus muncul, baik oleh tentara 'Israel' maupun tentara bayaran Amerika di lokasi distribusi bantuan. Beberapa mantan tentara bayaran AS bahkan angkat bicara, mengaku menyaksikan langsung bagaimana warga yang kelaparan ditembaki ketika mencoba meraih sepotong bantuan. (zarahamala/arrahmah.id)
