Memuat...

Kepanasan di Dalam Tank, Brigade Givati Menolak Masuk Gaza Siang Hari

Zarah Amala
Kamis, 21 Agustus 2025 / 28 Safar 1447 10:45
Kepanasan di Dalam Tank, Brigade Givati Menolak Masuk Gaza Siang Hari
Institut Studi Keamanan Nasional: Perang tidak berhasil mematahkan kekuatan Hamas (AFP)

GAZA (Arrahmah.id) - Kanal 'Israel' Kan melaporkan bahwa sejumlah prajurit dari Brigade Givati meminta kepada komandan mereka agar tidak diperintahkan masuk ke Jalur Gaza pada siang hari, apalagi menggunakan kendaraan militer Humvee yang tidak dilengkapi perlindungan memadai.

Menanggapi hal itu, militer pendudukan 'Israel' mengatakan bahwa mereka menghargai pengabdian para tentara, dan akan terus berupaya memberikan perlindungan yang dibutuhkan pasukan.

Sebelumnya, Channel 14 Israel juga menyebutkan bahwa Brigade Givati kembali dikerahkan ke wilayah Jabalia di bagian utara Jalur Gaza.

Pada saat yang sama, surat kabar Israel Hayom mengungkapkan bahwa para tentara melaporkan seringnya terjadi kerusakan pada sistem pendingin udara di kendaraan lapis baja mereka. Akibatnya, suhu di dalam kendaraan bisa melonjak hingga 60 derajat Celsius.

Dalam laporannya yang diberi judul “Tentara Mati Kepanasan di Dalam Kendaraan Lapis Baja di Gaza”, koran itu menyebut ada tiga pilihan sulit bagi pasukan:

  1. Benar-benar mati karena suhu panas ekstrem.

  2. Tetap bertempur dengan membuka pintu kendaraan, yang sangat berbahaya.

  3. Mundur dari medan pertempuran.

Menurut Israel Hayom, militer 'Israel' memang menyatakan bahwa mengoperasikan kendaraan lapis baja tanpa AC bertentangan dengan aturan resmi. Namun, banyak tentara tetap melanjutkan pertempuran dalam kondisi “terbuka” meski penuh risiko.

Strategi yang Gagal

Dalam konteks lain, mantan kepala intelijen militer 'Israel', Tamir Hayman, menilai strategi yang menggabungkan tekanan militer dengan upaya kesepakatan parsial ternyata gagal mencapai tujuan.

Dalam tulisan yang diterbitkan oleh Institute for National Security Studies (INSS), Hayman menekankan bahwa perang berkepanjangan ini tidak berhasil melemahkan Hamas. Justru, katanya, Hamas mampu bermetamorfosis dari organisasi militer konvensional menjadi kekuatan gerilya terdesentralisasi. “Hal ini membuat kemenangan semakin sulit dicapai, dan biaya perang bagi 'Israel' kian membengkak,” ujarnya.

Menurutnya, dampak negatif perang juga terasa di dalam negeri Israel: polarisasi politik semakin dalam, disiplin di tubuh militer menurun, sementara biaya perang melonjak hingga miliaran dolar per tahun. Ditambah lagi, citra 'Israel' di panggung internasional semakin tergerus dengan tuduhan melakukan pelanggaran serius terhadap warga sipil. (zarahamala/arrahmah.id)