Mengapa Kita Membedakan Sunni dan Syi'ah

Segala puji bagi Allah Pemilik alam semesta, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi dan utusan yang mulia Muhammad, keluarganya yang bersih dan suci juga kepada siapa saja yang meningkuti jejak langkahnya sampai hari kebangkitan nanti, amma ba’du,

Kata-kata ini saya tuliskan untuk anda dengan penuh rasa kecintaan yang mendalam. Dengan kecintaan inilah saya berusaha mengkomunikasikan apa yang saya tulis kepada anda sekalian. Dan saya khususkan anda dengan tulisan ini dikarenakan anda adalah yang memiliki akal yang cerdas yang akan mengutamakannya dari hanya sekedar ikut-ikutan pada hal-hal yang jelas salah.

Dan apa yang saya katakan adalah kebenaran yang berdasarkan pada dalil-dalil dan hujjah. Sehingga akan mudah bagi anda untuk menguak kebatilan dan kerancuannya. Saya tidak akan membahas masalah ini denga basa-basi tapi inilah kebenaran. Masalah ini sangat pelik bagi mereka yang hanya ikut-ikutan tanpa bukti yang benar, tapi bagi anda yang pandai akan sangat mudah, karena hanya dengan sekedar membaca akan tampak jelas kebatilan dan kerapuhan dasar-dasarnya, karena anda adalah pembaca yang memiliki pemahaman.

Masalah ini diyakini oleh kebanyakan ulama syiah, juga termaktub dalam kitab-kitab induk mereka dan yang merupakan keyakinan pokok bagi pengikut faham syiah, keyakinan itu adalah “Al Quran telah mengalami perubahan “.

Maksudnya adalah, bahwasanya Al Quran yang sekarang ada sudah tidak asli, sudah dirubah dan diganti. Quran yang sekarang sudah tidak seperti quran yang diturunkan Allah pertama kali.

Aqidah ini bukan merupakan perkataan atau rekayasa saya, akan tetapi merupakan aqidah dan keyakinan yang saya ambilkan dari buku-buku ulama syiah, ahli hadits mereka dan dari mereka yang memliki pengaruh. Tugasku disini hanyalah memindahkan saja dari sumber-sumber mereka kehadapan anda sekalian, sehingga hanya dengan memaparkannya saja saya yakin akan dengan mudah anda akan bisa menguak kebatilannya. Bagaimana tidak bukanlah Allah ta’ala telah berfirman :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al quran dan Kamilah yang akan menjaganya ” (QS. Al Hijr: 9)

Disini Allah berjanji bahwa Dia-lah yang akan menjaganya, akan tetapi aqidah syiah justru mengatakan bahwa al Qur’an tidak terpelihara.. Allah juga berfirman :

“Tidak datang kebatilan dari hadapannya dan juga tidak dari belakangnya, dia adalah diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Ini adalah sekedar peringatan dariku. Marilah kita semua berdoa memohon pada Allah agar diberi petunjuk ke jalan yang benar, memohon agar ditampakkan kebenaran pada kita sebagai kebenaran, dan memberi petunjuk kita untuk mengikuti kebenaran, dan memohon agar ditampakkan kebatilan pada kita sebagai kebatilan dan memberi petunjuk pada kita untuk menjauhinya.

Akan tetapi aqidah syiah justru mengatakan bahwa al Quran penuh kebatilan.

Pembaca yang budiman, sebelum kami paparkan keyakinan mereka tentang al Qur’an ini, kami ingin paparkan terlebih dahulu riwayat hidup para ulama syiah tersebut, sehingga kita bisa mengetahui sejauh mana kedudukan, ketinggian ilmu, pengaruh, dan kewenangan mereka di kalangan penganut faham syiah. Dan terbukti bahwasanya mereka bukanlah sosok manusia yang biasa, akan tetapi mereka adalah para pemimpin dan yang memiliki otoritas dan bahkan ada yang termasuk peletak dasar faham syiah. Marilah kita ikuti pemaparan riwayat hidup mereka yang juga kami ambilkan dari buku-buku syiah :

1. Abul Hasan Ali ibn Ibrahim al Qummi, wafat 307 H, dia adalah pengarang kitab tafsir yang bernama al Qummi

Berkata al Majlisi “Ali ibn Ibrahim ibn Hasyim, Abul Hasan al Qummi ,darinya para imam meriwayatkan. Termasuk syeikh yang besar . Banyak kitab biografi menulis tentang kebesaran dan kejujurannya. An Najasyi berkata: “Terpercaya dalam hadits, mazhabnya lurus . ( muqodimah al Bihar 128)

Berkata Syeikh Thoyyibul Musawi dalam muqodimah kitab tafisrnya: “Tidak disangsikan lagi bahwa kitab tafsir ini merupakan kitab tafsir yang paling awal yang sampai di tangan kita. Kalaulah bukan karena tafsir ini, ilmu tafsir tidak akan berkembang, dan tidak akan menjadi rujukan bagi para penulis, berapa banyak kitab tafisir yang ada merujuk pada kitab ini, seperti as Shofi, Majma’ul Bayan dan al Burhan. … Kemudian dia berkata: “Dia adalah tafsir Rabbani, penerang, memiliki makna yang dalam, indah bahasanya, nihil dari kesalahan. Kitab ini tidak ditulis kecuali oleh seorang yang tinggi ilmunya dan tidak akan memahaminya kecuali mereka yang ilmunya tinggi. (dalam muqodimah tafsir al Qummi oleh Thoyyin Musawi al Jazairi hal. 14-16

Barangkali dengan penjelasan ini cukuplah menjadi pejelas sejauh mana ketinggian pengaruh dan posisinya dan posisi kitab tafsirnya dikalangan syiah.

2. Abu Ja’far Muhammad ibn Ya’kub .ibn Ishaq al Kulaini wafat 328 H , di antara karyanya adalah al Kafi.

Berkata ath Thusi: “Muhammad ibn Ya’kub al Kulaini yang diberi gelar Abu Ja’far al A’war.. Pengaruhnya besar dan seorang alim besar.

Berkata Ardabili: “Muhammad ibn Ya’kub ibn Ishaq Abu Ja’far al Kulaini Pamannya bernama Allan al Kulaini ar Razi, dia adalah mazhab kami di jamannya, dia adalah orang yang paling terpercaya dalam bidang hadits . Dia mengarang kitab al Kafi ketika masih berumur 20 tahun. (dalam Jamiur Ruwat 2/218, al Hulli hal. 145)

Berkata AghoBazrak Thohrani: “Kitab al Kafi merupakan kitab hadits yang penting di antara kitab induk aqidah yang empat. Tidak ada kitab yang serupa dengannya yang berisi riwayat dari keluarga Rasulullah . (dalam Dzariah 17/245)

3. Muhammad Baqir al Majlisi wafat 1111 H di antara karyanya adalah “Biharul Anwar al Jamiah Lidurarii Akhbar Aimmatil Athar” juga kitab “Miratul Uqul fii Syarhi Akhbaril Rasul”, juga kitab “Jalaul ‘Uyun”, juga kitab “Arbain” dan yang lainnya. Berkata Ardabili: “Dia adalah ustadz dan syeikh kami dan syeikhnya kaum muslimin, penutup para mujahid, imam besar yang alim, disegani, terpandang, tidak ada duanya, terpercaya, karyanya sangat bagus. Kelebihann-kelebihannya sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dia memliki sebuah karya besar berjudul “Biharul Anwar” yang memaparkan tentang biografi para imam-imam dan juga syarahnya, sebuah kitab besar yang isinya mendekati satu juta baris (dalam Jamiur ruwat 2/78-79 dan tanqihul Maqol karya Mamaqoni 2/85)

4. Abu Abdillah Muhammad ibn Muhammad ibn Nukman yang masyhur dengan Al Mufid wafat tahun 413 H di antara karyanya adalah buku “Al Irsyad”,”Amali al Mufid”,”Awailul Maqolat” dan yang lainnya.

Berkata Yusuf al Bahrani dalam kitab Lu’luatul Bahrain hal 356-357 :… dia adalah syeikh kaum syiah, pemimpin dan ustadz mereka, kelebihannya sangat besar sekali dan tidak bisa diungkapkan, orang-orang setelahnya banyak mengambil manfaat dari ilmunya.

Berkata Abbas Qummi: “Syikhya para syaikh yang agung, pemimpin para imam, yang menghidupkan syariat, Menara bagi agama. Terkumpul pada dirinya keutamaan, seorang yang faqih, adil, terpercaya, menjawab persoalan dengan, riwayatnya luas, ahli dalam periwayatan, para perawi dan syair. Dia adalah ahli hadits yang terpercaya pada masanya, ahli dalam fiqh dan ilmu kalam. Banyak yang mendapatkan manfaat darinya di kemudian hari. (Al Kuna wal Alqob jilid 3 hal 164)

5. Husain Muhammad Taqiyuddin an Nuri ath Thobrusi wafat 1320 H dintara karyanya adalah : “Mustadrak Wasail”,”Fashul Khithob fii Itsbat Tahrifil Kitabil Rabil Arbab”.

(kitab yang komprehensif yang memaparkan di dalamnya bahwa terjadi peyimpangan dalam al Quran yang periwayatannya disandarkan para imam Syiah dipaparkan disana ratusan hadits ).

Berkata Aghabazrak ath Thohrani : dia adalah salah satu imam hadits, dia juga merupakan ulama terkemuka syiah dan ulama islam di abad ini…. dia adalah salah satu sosok ulama salafusholeh yang tidak ada tandingannya. Dia punya kepandaian, dan dia adalah salah satu dari ayat-ayat Allah yang luar biasa. Tersimpan dalam dirinya bakat-bakat yang menakjubkan, seluruh hidupnya dia persembahkan demi agama dan madzhab syiah. Sepanjang hidupnya merupakan lembaran yang cemerlang yang dihiasi dengan amalan-amalan saleh. Diantara hasil karyanya adalah: “Fashlul Khithob fii Masalati Tagrifil Kitab”. (Nuqaba’ul Basyar jilid 2 hal 5)

Pembaca yang budiman , inilah sebagian dianatara biografi sebagian ulama syiah yang nantinya akan kami nukilkan sebagian pendapat mereka tentang tahriful quran atau penyimpangan al Quran. Dan jika anda menginginkan informasi yang lebih lengkap anda bisa mengkaji kitab-kitab mereka sehingga anda lebih bisa mengerti banyak. Untuk itu marilah kita simak pendapat-pendapat mereka ini:

1. Nash pertama, diambilkan dari Qummi dalam tafsirnya pada jilid 1 hal 10, dia berkata: “Di antara yang bukan firman Allah ta’ala adalah ayat “Kuntum khoiro ummah” Berkata Abu Abdillah kepada pembaca ayat ini ‘khoiro ummah (ummat terbaik)?’ sedangkan mereka membunuh amirul mukminin dan membunuh Hasan dan Husain. Maka dikatakan kepadanya: “Lantas bagaimana sebenarnya ayat itu diturunkan? Dia berkata: “Kuntum khoiro aimmah (kamu adalah sebaik-baik imam)” bukankah kamu tidak melihat pujian Allah yang terdapat di akhir ayat ini ” takmuruna bil makruf wa tanhauna ‘anil munkar wa tu’minuna billahi” (kalian ber amar ma’ruf dan nahi mungkar serta beriman pada Allah).

Contoh lainnya adalah ayat yang dibacakan kepada Abu Abdullah: “Alladzina yaquluna rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqin imama” Abu Abdillah berkata: “Sungguh mereka telah meminta kepada Allah sesuatu yang besar, yaitu meminta supaya dijadikan imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Lantas bagaimana sebenarnya ayat tersebut diturunkan? “waj’al lana minal muttaqina imama ( ya Allah jadikanlah buat kami seorang imam dari kalangan orang yang bertaqwa )”.

Kemudian di antara yang di tahrif/ dirubah adalah :” (ayat)

2. Al Kulaini menyebutkan dalam al Kafi 1/457. Dari Abu Bashir dari abi abdillah berkata: “Sungguh kami mempunyai sebuh Mushfah yang namanya Mushfah Fathimah, taukah anda apa mushaf Fathimah itu ? Dia berkata: Mushaf Fathimah adalah seperti tiga kali Quran kamu sekalian, demi Allah tidak ada di dalamnya satu hurufpun yang tertulis dalam Quranmu (sunni)”.

3. Al Kulaini juga menyebutkan dalam al Kafi, 4/456, Dari Hisam ibn Salim dari Abi Abdillah berkata: “Sesungguhnya Al Quran yang diturunkan Jibril a.s kepada Muhammad saw jumlahnya adalah 17 ribu ayat. Dan perlu kita ketahui bahwa ayat yang dalam al Quran jumlahnya hanya enam ribuan ayat. Jadi, perbedaannnya sangat jauh.

4. Dalam al Kafi juga disebutkan 4/433, Dari Muhammad ibn Salman dari sebagian sahabatnya dari Abi Hasan berkata: “Saya berkata kepadanya: “Sesungguhnya kami mendengar ayat-ayat al Quran yang tidak biasa kami dengar sebagaimana dalam quran kami, dan kami juga tidak pandai membacanya sebagaimana kamu sekalian , apakah kami berdosa ? Dia berkata :” Tidak, akan datang nantinya orang yang akan mengajarkan”.

5. Dalam al Kafi jilid 1 hal 441disebutkan :

Dari Jabir: “saya mendengar Abu Ja’far berkata: Setiap orang yg mengatakan bahwa dia telah mengumpulkan seluruh Al Qur’an adalah pembohong, tidak ada yang memiliki seluruh Al Qur’an dan menghafalnya kecuali Ali dan para imam sesudahnya”.

6. Berkata Abu Hasan al Amili dalam muqoddimah yang kedua, bagian ke-empat dalam tafsir Miratul Anwar wa Misykatul Asrar: “menurutku sudah sangat jelas perkataan bahwa al Quran telah diubah dan di ganti. Setelah saya meneliti, bisa saya katakan bahwa keyakinan itu merupakan dhoruriyah dalam madzha syiah. Dan bisa dikatakan bahwa tujuannya adalah untuk merampas kekholifahan”.

7. ‘Ayasyi meriwayatkan dalam tafsirnya, juz 1 hal. 25. Dari Abi Ja’far bahwasanya dia berkata: “kalaulah tidak ada tambahan dan pengurangan dalam Kitabullah niscaya kebenaran yang kita miliki tidak akan tertutup.

8. Berkata Haj Karim al Kirmani yang diberi gelar Mursyidul Anam dalam bukunya “irsyadul Awam juz. 3 hal 221 dalam bahasa Parsi: “Setelah Imam Mahdi muncul dan membacakan al Quran dia berkata: “wahai kaum muslimin inilah al Quran yang sesungguhnya yang telah diturunkan kepada Muhammad dan yang telah dubah dan diganti “.

9. Berkata Mulla Muhammad Taqiy al Kasyani dalam buku Hidayatuth Tholibin hal 368 dalam bahasa Parsi: “Utsman memerintahkan kepada sahabatnya Zaid ibn Tsabit yang merupakan musuh Imam Ali supaya mengumpulkan al Quran dan menghapus darinya ayat tentang keluarga ahlul bait. Dan al Quran yang sekarang ini tersebar luas yang terkenal dengan sebutan mushfah utsmani adakah mushaf yang sama dengan mushaf dari utsman.

Setelah kita membaca sebagian pendapat ulama-ulama besar syiah, bahkan merupakan dasar aqidah madzhab mereka. Pertanyaannya, adakah disana ada ulama kalangan syiah yang membantahnya? Jawabannya adalah ada, Disini kami tidak akan melakukan diskriminasi, semua pendapat akan kami kemukakan. Diantara ulama yang membantah kepercayaan ini – bahwa al Quran sudah diubah dan diganti – adalah: (Abu Ja’far ath Thusi, Abu Ali ath Thobrusi penulis majmaul Bayan, Syarif Murtadho, Abu Ja’far ibn Bawabaih al Qummi (ash Shiddiq)). Dan di antara yang menyebutkan jajaran ulama ini adalah an Nui ath Thobrusi dalam bukunya Fashlul Khithob fii itsbat tahrifi Kitab Rabbil Arbab hal 23, dia berkata: “Perkataan bahwasanya al Quran yang tersebar luas dikalangan manusia adalah tidak mengalami perubahan dan bahwasanya apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah seperti yang sekarang terdapat ditangan manusia adalah pendapat ash Shoduq, Sayyid Murtadho, Syeikh Thoifah ath Thusi dalam tibyan dan para ulama terdahulu banyak yang tidak sepakat dengannya “.

Berkata pula Nikmatullah al Jazairi dalam bukunya Anwar Nukmaniyah juz.2 hal 357: “Kami memang mengakui ada sahabat kami- semoga Allah meridhoi mereka – telah sepakat tidak ada perubahan dalam Al Quran , di antara mereka adalah ash Shoduq, Murtadho, Syeikh Thobrusi mereka menetapkan bahwa al Quran yang ada adalah mushaf yang asli yang tidak ada di dalamnya perubahan dan penyimpangan”.

Pertanyaan dan Jawaban, Apakah motivasi mereka sehingga mereka mengatakan bahwa al Quran tidak mengalamai perubahan dan penyimpangan, sebagaimana dikatakan pendahulu mereka apakah memang benar-benar karena dorongan aqidah ataukah karena sekedar melakukan taqiyah? Yang mana dikatakan bahwa: “Seseorang yang tidak bertaqiyah maka dia tidak beriman”. (9 dalam ushulul Kafi juz 2 hal 222)

Jawabannya adalah, sangat disayangkan adalah karena taqiyyah..Hal ini sebagaimana dikatakan An Nuri Ath Thobrosi dalam bukunya :” Tidak diherankan bagi yang memperhatikan bahwa pembahasannya akan berujung pada kecenderungan memihak mereka yang mengakui bahwa al Quran telah mengalami perubahan “.

——————————————————————————–

Salah satu kaedah dalam berhubungan dengan orang bermazhab syi’ah, pasti dia melakukan taqiyah, karena jika tidak bertaqiyah maka dia tidak beriman alias kafir.

Al Burhan Site

Baca artikel lainnya...
Komentar
Loading...

Rekomendasi untuk Anda

Berita Arrahmah Lainnya

Banner Donasi Arrahmah