Memuat...

Osama Hamdan: Serangan 'Israel' di Doha Adalah Serangan Langsung Terhadap Inisiatif Trump

Zarah Amala
Sabtu, 13 September 2025 / 21 Rabiulawal 1447 10:45
Osama Hamdan: Serangan 'Israel' di Doha Adalah Serangan Langsung Terhadap Inisiatif Trump
Osama Hamdan, salah satu pimpinan gerakan perlawanan Islam Hamas (Foto: tangkapan video)

DOHA (Arrahmah.id) - Osama Hamdan, salah satu pimpinan Hamas, menyebut serangan 'Israel' terhadap Qatar dan terhadap delegasi perunding Hamas di Doha sebagai “tembakan langsung” pada proposal Presiden AS Donald Trump. Meski begitu, ia menekankan bahwa upaya Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, di Washington dan New York tetap merupakan langkah penting. Hamas, katanya, kini menunggu hasil dari rangkaian pertemuan itu.

Pada Jumat (12/9/2025), Sheikh Mohammed menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat pemerintahan AS sebelum dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Trump di New York. Seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pertemuan itu berfokus pada situasi di Gaza.

Hamdan menilai, “Upaya dan pergerakan diplomatik Qatar setelah serangan ini adalah bagian penting. Kami berharap Amerika kali ini benar-benar merespons, karena kalau tidak, itu hanya akan memberi 'Israel' lebih banyak ruang untuk melanjutkan kejahatannya, baik di Gaza maupun di luar Gaza.”

Ia menambahkan, Hamas masih menunggu perkembangan dari upaya mediasi yang dijalankan Qatar bersama dukungan Mesir. “Kita akan lihat apakah ada niat dari pihak Amerika untuk menekan 'Israel': menghentikan agresinya, membuka perlintasan bagi bantuan kemanusiaan, memulai rekonstruksi, dan juga melakukan pertukaran tahanan,” ujarnya.

Mengenai serangan di Doha, Hamdan menceritakan bahwa sebelumnya sebuah proposal baru sudah diserahkan kepada Hamas lewat pertemuan antara Khalil al-Hayya, ketua tim perunding Hamas, dan Sheikh Mohammed. Hamas tengah mempelajari dokumen itu dan menyiapkan respons resmi, namun justru di tengah proses itulah upaya pembunuhan terjadi.

“Upaya pembunuhan delegasi perunding adalah tembakan langsung pada kertas inisiatif Trump,” kata Hamdan. “Pertanyaannya: apakah 'Israel' sendiri menerima proposal ini? Menurut saya, 'Israel' sudah menaruh dokumen itu di belakang punggung semua orang.”

Hamdan juga mengingatkan bahwa sejak 'Israel' menolak menjawab proposal para mediator pada 18 Agustus lalu, sikapnya sudah jelas: membalikkan arah negosiasi, mengabaikan jalan damai, dan tetap melanjutkan agresi di Gaza tanpa melepaskan para tahanan.

Karena itu, ia menuntut AS benar-benar menekan 'Israel'. “Mereka mampu melakukannya. Jika Washington tidak mengambil sikap tegas, itu pesan buruk bagi kawasan: 'Israel' bisa melanggar hukum internasional semaunya, tanpa ada yang mengendalikan. Hasilnya adalah kekacauan di seluruh kawasan,” tegasnya.

Hamdan juga menekankan bahwa isu ini bukan sekadar apa yang diinginkan Hamas atau Palestina. “Pertanyaannya lebih besar: apakah ada kemauan internasional, khususnya Amerika, untuk mengendalikan agresi 'Israel', atau membiarkan kawasan ini terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan?”

Di sisi lain, ia menyampaikan apresiasi atas upaya Qatar dan Mesir yang berulang kali berusaha menjadi mediator. Menurutnya, berbagai langkah mediasi itu sebenarnya hampir mencapai hasil, dan Hamas selalu merespons positif. Tetapi, 'Israel' berulang kali menggagalkannya, kadang dengan pembunuhan, seperti pada Ismail Haniyeh, dan kadang lewat agresi terbuka, seperti serangan ke Qatar beberapa hari lalu.

“Meski begitu, Hamas dan para mediator tetap berjalan maju. Yang kita kejar jelas: menghentikan agresi di Gaza, mengakhiri pendudukan, dan menghentikan 'Israel' yang mengancam keamanan serta stabilitas kawasan bahkan dunia,” ujar Hamdan.

Seperti diketahui, pada Selasa (9/9) 'Israel' melancarkan serangan di Doha yang menargetkan para pemimpin Hamas. Hamas menyatakan, jajaran pimpinannya berhasil selamat dari percobaan pembunuhan itu, tetapi serangan menewaskan sejumlah orang, termasuk Humam, putra Khalil al-Hayya, direktur kantornya, serta seorang anggota pasukan keamanan Qatar. (zarahamala/arrahmah.id)