Memuat...

Pejabat Militer Inggris Tutupi Eksekusi Anak-Anak Afghanistan, Ungkap Penyidikan Independen

Zarah Amala
Rabu, 3 Desember 2025 / 13 Jumadilakhir 1447 11:00
Pejabat Militer Inggris Tutupi Eksekusi Anak-Anak Afghanistan, Ungkap Penyidikan Independen
(Foto: Reuters)

LONDON (Arrahmah.id) - Mantan direktur pasukan khusus Inggris dan sejumlah pejabat tinggi militer lainnya terlibat dalam upaya menutup-nutupi dugaan kejahatan perang yang dilakukan pasukan Inggris selama perang di Afghanistan, termasuk pembunuhan anak-anak. Temuan tersebut terungkap dalam penyelidikan yudisial independen yang tengah berlangsung di Inggris.

Dalam kesaksian terbaru, seorang perwira senior yang bekerja dengan Special Air Service (SAS) mengatakan bahwa unit tersebut “menembak balita di tempat tidur mereka” selama operasi di Afghanistan. Perwira itu, yang dalam penyelidikan diidentifikasi sebagai N1466, menyatakan bahwa perilaku tersebut mencerminkan “kegagalan” misi pasukan Inggris.

“Kami berada di Afghanistan untuk membawa ketertiban dan keamanan. Kami gagal,” kata N1466. Ia menambahkan bahwa perilaku ilegal tersebut menjadi semacam “kanker” di dalam satu unit SAS dan diketahui secara luas di lingkungan pasukan khusus.

Perwira tersebut juga menyatakan bahwa ia telah menyampaikan kekhawatirannya kepada direktur pasukan khusus saat itu, yang kemudian “secara sengaja” memutuskan untuk menyembunyikan informasi tersebut. Ia mengaku “sangat terganggu” oleh pembunuhan warga sipil yang tidak bersalah, termasuk anak-anak, dan oleh tidak adanya tindakan dari rantai komando militer Inggris.

“Ketika melihat kembali apa yang terjadi, balita-balita itu ditembak di tempat tidur mereka, semua itu mungkin tidak terjadi jika tindakan pencegahan segera diambil,” ujarnya.

Penyelidikan yang dipimpin hakim pengadilan banding Charles Haddon-Cave ini dibuka pada 2023 dan sebelumnya telah mengungkap temuan terkait 80 kematian mencurigakan antara 2010 dan 2013 yang melibatkan pasukan khusus Inggris.

Seorang perwira lain, yang juga memberikan kesaksian secara anonim, mengatakan bahwa kasus-kasus yang muncul saat ini kemungkinan “baru puncak gunung es”.

Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan pihaknya mendukung keberlanjutan penyelidikan tersebut. “Pemerintah berkomitmen penuh untuk mendukung penyelidikan independen terkait Afghanistan,” ujar juru bicara kementerian, seraya berterima kasih kepada para saksi yang sudah memberikan keterangan. Kementerian sebelumnya sempat menolak persetujuan penyelidikan.

Ini bukan pertama kalinya pasukan Inggris dikaitkan dengan pembunuhan di luar proses hukum selama perang di Afghanistan. Lima tahun lalu, seorang pelapor menyampaikan kepada pengadilan Inggris bahwa sebuah unit militer menjalankan “kebijakan sengaja” untuk mengeksekusi pria Afghanistan yang tidak bersenjata.

Militer Amerika Serikat juga pernah dikaitkan dengan sejumlah insiden serupa baik di Afghanistan maupun Irak, yang turut diduduki Inggris bersama pasukan AS pada 2003. (zarahamala/arrahmah.id)