GAZA (Arrahmah.id) - Media pro-'Israel' meluncurkan kampanye fitnah baru yang menargetkan Miss Palestine, Nadeen Ayoub, perempuan Palestina pertama yang berkompetisi di ajang Miss Universe. The New York Post menuduhnya “terorisme” hanya karena ia pernah menikah dengan Sharaf Barghouti, putra dari tokoh perjuangan Palestina yang ditahan, Marwan Barghouthi, yang sering dijuluki Mandela Palestina.
The New York Post menggunakan riwayat pernikahan Ayoub untuk mendorong narasi politik yang menyerang. Marwan Barghouthi dikenal luas sebagai sosok simbolik perjuangan Palestina yang dijatuhi lima hukuman seumur hidup oleh 'Israel'. Namanya sering muncul dalam diskusi global mengenai tahanan politik.
Media itu memanfaatkan kemunculan Barghouthi dalam proposal pertukaran tahanan terbaru sebagai alasan untuk menyerang Ayoub. Gerakan perlawanan Hamas memasukkan Barghouthi dalam daftar ratusan tahanan dari berbagai faksi yang diminta untuk dibebaskan. 'Israel' masih menahan lebih dari 11.000 tahanan dan sandera Palestina, menggunakan mereka sebagai alat tawar untuk menekan keluarga para tahanan.
The New York Post juga menerbitkan komentar bernada rasis. Mereka mengejek Ayoub karena mengenakan burkini dalam segmen pakaian renang. Media itu menulis: “Yang lebih mengejutkan, partisipasinya dalam kompetisi pakaian renang membuat banyak pihak mengernyitkan dahi karena ketidaksesuaian… Ayoub mendapat sorotan pekan ini karena memilih untuk memakai ‘burkini’ yang disebut sebagai tindakan ‘pemberdayaan’.”
Outlet tersebut juga mengutip beberapa menteri 'Israel' yang menyangkal keberadaan Palestina dan rakyat Palestina, narasi yang kini menjadi bagian dari kampanye menyerang Miss Palestine.
Pada Rabu (19/11/2025), Ayoub melangkah ke panggung Miss Universe dengan membawa pesan kuat. Ia mengenakan gaun gading yang memadukan sulaman tradisional tatreez dengan simbol-simbol dari sejarah Palestina. Di Instagram, ia menulis bahwa berdiri di panggung dengan gaun “yang membawa generasi di dalamnya” adalah salah satu momen paling bermakna dalam hidupnya.
Penampilannya juga dilengkapi mahkota yang terinspirasi dari shatweh (penutup kepala tradisional). Sulaman gaunnya menampilkan motif pohon zaitun, simbol perdamaian dan keterikatan dengan tanah air. Ia membawa kunci kecil, melambangkan kenangan akan rumah yang hilang.
Jubah bergambar tangan yang disampirkan di bahunya merupakan penghormatan untuk Masjid Al-Aqsa dan Gereja Makam Kudus (Church of the Holy Sepulchre), sebagai simbol warisan bersama.
“Ini bukan sekadar kostum bagiku. Ini adalah warisanku, suaraku, dan hatiku,” tulisnya. “Setiap jahitan berasal dari seni tatreez, dari kisah, tangan, dan keteguhan perempuan Palestina.” (zarahamala/arrahmah.id)
