Memuat...

PKS Kenang Suripto, Tokoh Intelijen dan Aktivis Kemanusiaan yang Berjuang hingga Akhir Hayat

Ameera
Sabtu, 8 November 2025 / 18 Jumadilawal 1447 20:17
PKS Kenang Suripto, Tokoh Intelijen dan Aktivis Kemanusiaan yang Berjuang hingga Akhir Hayat
PKS Kenang Suripto, Tokoh Intelijen dan Aktivis Kemanusiaan yang Berjuang hingga Akhir Hayat

JAKARTA (Arrahmah.id) - Sejumlah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengenang sosok Suripto, tokoh intelijen dan aktivis kemanusiaan senior yang wafat pada Kamis siang (6/11/2025).

Suripto dikenal sebagai figur tenang, visioner, dan tak kenal lelah dalam memperjuangkan keadilan, baik di dalam maupun luar negeri.

Ketua Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) PKS, Mulyanto, menceritakan awal perkenalannya dengan Suripto pada tahun 1995, ketika ia meminta arahan untuk Institute for Science and Technology Studies (ISTEC).

Hubungan keduanya semakin erat ketika mendirikan Partai Keadilan, cikal bakal PKS.

Mulyanto menggambarkan Suripto sebagai sosok guru yang tenang dan berpikiran tajam, dengan murid-murid dari berbagai kalangan bangsa. Hingga masa-masa terakhir hidupnya, Suripto masih aktif berdiskusi dan berbagi pandangan.

"Sosok Pak Ripto itu tenang, kalem, sedikit bicara, tapi kalau sudah bicara kita kaget karena seringkali bertolak belakang cara berpikir kita,” ujar Mulyanto.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat DPP PKS Mustafa Kamal menyoroti semangat aktivisme Suripto yang tak pernah padam, bahkan di usia senja.

Di usia 88–89 tahun, Suripto masih turun langsung ke lapangan, memperjuangkan kepentingan rakyat dalam berbagai isu nasional seperti kasus pagar laut dan tambang Morowali.

Tak hanya itu, Suripto juga aktif di ranah internasional. Sebagai Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), ia terus mengawal perjuangan kemerdekaan Palestina hingga akhir hayatnya.

"Bayangkan dalam usia 88 atau 89 beliau masih turun ke lapangan. Perjalanan terakhir beliau ke luar negeri ke Turki sebagai bagian dari perjuangan mengawal proses-proses kritis di Palestina,” ungkap Mustafa Kamal.

"Beliau adalah pejuang sampai akhir. Semoga kita tidak hanya mengaku sebagai muridnya tetapi mewarisi semangatnya,” tambahnya.

Kesaksian lain datang dari Menteri Kehutanan dan Perkebunan periode 1999–2001, Nur Mahmudi Ismail, yang pernah bekerja bersama Suripto ketika almarhum menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

Nur Mahmudi menilai Suripto sebagai sosok profesional dan berintegritas tinggi, yang berperan penting dalam membenahi praktik pengelolaan hutan yang destruktif, otoriter, dan sarat penyimpangan dana reboisasi, sebagaimana ditugaskan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kala itu.

"Alhamdulillah, kurang dari 4 bulan kita sudah mengumpulkan lebih dari Rp7 triliun dana reboisasi dari 40 rekening yang berserakan di berbagai tempat untuk dikonsolidasikan,” ungkap Nur Mahmudi.

Ia juga menuturkan bahwa meski lebih muda secara usia, ia mendapat penghormatan penuh dari Suripto sebagai pimpinan kementerian.

"Beliau sosok intelijen yang mempunyai pemahaman banyak, tapi dikala beliau menjadi Sekjen, beliau memahami keputusan akhir tetap di menterinya. Beliau sebagai Sekjen memperlakukan saya sebagai pemimpinnya,” tutup Nur Mahmudi.

Suripto meninggalkan jejak panjang dalam dunia intelijen, politik, dan kemanusiaan Indonesia. Keteladanan, integritas, serta pengabdiannya kepada bangsa dan umat akan terus dikenang oleh rekan seperjuangan dan generasi penerusnya.

(ameera/arrahmah.id)