Memuat...

Poin-poin Penting Pertemuan Trump–Netanyahu di Florida

Zarah Amala
Rabu, 31 Desember 2025 / 11 Rajab 1447 10:31
Poin-poin Penting Pertemuan Trump–Netanyahu di Florida
Trump dan Netanyahu sepakat untuk mengancam Hamas dan Iran tetapi berbeda pendapat mengenai kebijakan 'Israel' di Tepi Barat [Getty]

FLORIDA (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjamu Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu di Florida pada Senin (29/12/2025) untuk membahas langkah menuju tahap berikutnya dari rencana gencatan senjata Gaza yang masih rapuh.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membicarakan berbagai isu, termasuk ancaman terhadap Hamas dan Iran. Namun, sejumlah tanda perbedaan pandangan juga mencuat, seiring dengan frustrasi Trump terhadap Netanyahu.

Hubungan antara pemerintahan AS dan 'Israel' dilaporkan semakin tegang dalam sejumlah isu utama, seperti pembangunan permukiman 'Israel' di Tepi Barat, situasi Hizbullah di Lebanon, serta konflik di Suriah.

Meski demikian, dalam konferensi pers bersama, Trump menyatakan dirinya “tidak khawatir” dengan pelanggaran gencatan senjata Gaza yang dilakukan 'Israel' secara berulang. Netanyahu pun menanggapi dengan menyebut bahwa “kami belum pernah memiliki sahabat seperti Presiden Trump di Gedung Putih.”

Ancaman terhadap Hamas di Gaza

Trump memperingatkan bahwa Hamas akan menghadapi “konsekuensi berat” jika tidak segera melucuti senjatanya sebagai bagian dari kesepakatan Gaza, yang menurutnya telah dipatuhi 'Israel'. Pernyataan ini disampaikan meskipun 'Israel' terus melancarkan serangan udara hampir setiap hari di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 400 orang sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober lalu.

“Jika mereka tidak melucuti senjata seperti yang telah disepakati, maka akan ada konsekuensi berat bagi mereka,” kata Trump dalam konferensi pers bersama Netanyahu. Ia menambahkan bahwa Hamas harus melucuti senjata “dalam waktu yang relatif singkat.”

Trump juga secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu, yang hingga kini menolak melanjutkan ke tahap berikutnya dari rencana gencatan senjata Gaza.

“Saya tidak khawatir dengan apa pun yang dilakukan 'Israel',” ujar Trump, meskipun pelanggaran gencatan senjata terjadi hampir setiap hari. “Saya khawatir dengan apa yang dilakukan pihak lain, atau mungkin tidak mereka lakukan. Tapi 'Israel' telah mematuhi rencana tersebut.”

Sebelumnya pada hari yang sama, sayap bersenjata Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam, kembali menegaskan penolakannya untuk menyerahkan senjata. Dalam sebuah pesan video, kelompok itu menyatakan bahwa rakyat Palestina “membela diri dan tidak akan melepaskan senjata selama pendudukan masih berlangsung.”

Kembali Menabuh Genderang Perang Iran

Trump dan Netanyahu juga membahas Iran. Trump mengatakan bahwa jika Teheran membangun kembali fasilitas nuklirnya, Amerika Serikat akan “menghancurkannya kembali.”

Pejabat dan media 'Israel' sebelumnya mengklaim bahwa Iran tengah membangun kembali arsenal rudal balistiknya setelah diserang 'Israel' dalam perang selama 12 hari pada Juni lalu.

Trump mengatakan ia percaya Iran ingin mencapai kesepakatan, namun memperingatkan bahwa AS akan kembali menyerang fasilitas nuklir Iran dengan cepat jika Teheran melanjutkan program tersebut.

Iran pada Senin (29/12) membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “operasi psikologis,” menegaskan kesiapan penuh untuk mempertahankan diri dan memperingatkan bahwa agresi baru akan berujung pada “konsekuensi yang lebih keras” bagi 'Israel'.

Tepi Barat: Tanda Perbedaan Pandangan

Menurut laporan Axios, Trump dan para penasihat utamanya meminta Netanyahu mengubah kebijakan 'Israel' di Tepi Barat yang diduduki.

'Israel' baru-baru ini menyetujui pembangunan permukiman baru di wilayah tersebut, memicu kecaman internasional. Serangan kekerasan oleh pemukim 'Israel' terhadap warga Palestina juga meningkat, sementara militer 'Israel' telah menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina di Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023.

'Israel' juga memotong pendanaan untuk Otoritas Palestina dan mengambil langkah-langkah untuk memberlakukan apa yang disebut sebagai “kedaulatan” atas wilayah Palestina tersebut.

Pejabat AS dilaporkan meminta Netanyahu menghindari eskalasi lebih lanjut, dengan Trump secara langsung meminta agar situasi di Tepi Barat “diredakan.”

“Kami telah berdiskusi panjang tentang Tepi Barat. Saya tidak akan mengatakan bahwa kami sepakat 100 persen, tapi kami akan sampai pada kesimpulan,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa perbedaan itu akan diumumkan “pada waktu yang tepat,” seraya menyatakan keyakinannya bahwa Netanyahu “akan melakukan hal yang benar.”

Suriah: “Saya Harap Mereka Bisa Akur”

Netanyahu mengatakan 'Israel' berkepentingan menjaga perbatasan yang damai dengan Suriah. Trump pun menyatakan keyakinannya bahwa para pemimpin 'Israel' dan Suriah dapat menjalin hubungan yang baik.

Namun, 'Israel' terus melancarkan serangan dan operasi militer di Suriah, memanfaatkan runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 untuk merebut wilayah tambahan dan menghancurkan situs-situs militer Suriah.

'Israel' telah menduduki Dataran Tinggi Golan sejak 1967 dan kini menyatakan bahwa perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 dengan Suriah tidak lagi berlaku.

“Kepentingan kami adalah memiliki perbatasan yang damai dengan Suriah,” kata Netanyahu.

Trump diketahui telah beberapa kali bertemu Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa sejak jatuhnya rezim Assad dan memuji kepemimpinannya, termasuk mencabut sanksi ketat Caesar Act terhadap Suriah.

“Saya yakin 'Israel' dan dia akan bisa akur. Saya akan berusaha memastikan mereka bisa akur,” kata Trump.

Lebanon: “Kita Lihat Saja Nanti”

'Israel' meningkatkan serangannya ke Lebanon sejak gencatan senjata Gaza pada Oktober, disertai ancaman untuk kembali melancarkan perang yang sebelumnya berakhir pada November 2024.

Pemerintah Lebanon berupaya melucuti senjata Hizbullah, namun kelompok tersebut menolak selama 'Israel' terus melancarkan serangan.

Trump bersikap samar ketika ditanya apakah ia akan mendukung serangan 'Israel' lebih lanjut ke Lebanon.

“Kita lihat saja nanti,” ujarnya. “Pemerintah Lebanon berada dalam posisi yang sulit dengan Hizbullah. Tapi Hizbullah juga berperilaku buruk, jadi kita akan lihat apa yang terjadi.” (zarahamala/arrahmah.id)