BEOGRAD (Arrahmah.id) -- Presiden Serbia Aleksandar Vucic dituduh telah terlibat dalam pembantaian kaum Muslim di Sarajevo tahun 1990-an. Vucic disebut ikut serta dalam 'weekend sniper', sebuah event di mana orang asing kaya diduga membayar pasukan Serbia di sekitar Sarajevo untuk menembaki warga muslim di kota itu, lapor Radio Free Europe/Radio Liberty.
Namun tuduhan itu dengan cepat dibantah Vucic pada hari Jumat (21/11/2025).
"Saya belum pernah mendengar tentang 'weekend sniper'. Tapi itu tidak masalah. Saya tidak pernah memegang senapan di tangan saya," ungkap Vucic pada kepada TV Informer sambil memberitahu bahwa ia akan mengajukan gugatan terhadap media yang menuduhnya.
"Pulanglah, kita butuh jurnalis yang bisa berbahasa Inggris.' Kisahnya sangat absurd dan semua orang tahu itu. Saya punya rekaman, saksi, dan yang mereka bilang itu senapan, sebenarnya itu kaki kamera yang saya pegang untuk juru kamera," kata Vucic.
Vucic juga menambahkan bahwa ia akan menyewa pengacara terbaik di dunia untuk membuktikan bahwa dia tidak terkait dalam ajang 'weekend sniper' di Sarajevo selama perang di Bosnia dan Herzegovina pada tahun 90-an.
Jurnalis investigasi Kroasia Domagoj Margetić mengatakan bahwa ia telah menyerahkan bukti keterlibatan Vucic kepada Kejaksaan Milan – yang memimpin penyelidikan kasus 'weekend sniper'.
Akan tetapi laporan media dibantah Vucic yang meyakini bahwa dia akan memenangkan jutaan euro dalam gugatan ini.
"Saya hanya perlu melihat bagaimana mereka merumuskannya, apa yang mereka rumuskan, dan apa yang akan dikatakan para pengacara kepada saya," tegas presiden Serbia itu.
The Guardian, dalam laporannya, menulis bahwa "Presiden Serbia menghadapi tuntutan hukum dalam kasus 'akhir pekan penembak jitu' Sarajevo", menyusul pernyataan bahwa Margetić telah mengajukan gugatan tersebut kepada jaksa penuntut di Milan.
Tabloid Inggris Daily Mail menulis bahwa "Presiden Serbia dituduh berpartisipasi dalam 'safari manusia'", juga mengutip klaim Margetić.
Pada hari Kamis, dalam konferensi bisnis regional antara Inggris dan Balkan Barat, Vucic, menjawab pertanyaan wartawan, menepis tuduhan keterkaitannya dengan 'weekend sniper'.
Media Italia melaporkan pada awal Oktober bahwa jaksa penuntut di Milan telah membuka penyelidikan terhadap warga negara Italia yang diduga membayar sejumlah besar uang kepada pasukan Serbia agar mereka dapat mengikuti acara 'weekend sniper' dan membunuh warga muslim untuk bersenang-senang selama pengepungan Sarajevo.
Menurut bukti yang dikumpulkan di seluruh Italia utara, para peserta 'weekend sniper' ini yang sebagian besar berhaluan kanan ekstrem dan pecinta senjata. Mereka berkumpul di Trieste dan kemudian dikirim ke perbukitan di sekitar Sarajevo. Dari sana, mereka dapat menembaki warga muslim yang terkepung setelah membayar pasukan Serbia Bosnia.
Selama hampir empat tahun pengepungan Sarajevo, menurut data dari asosiasi korban dan keputusan pengadilan internasional, satu dari sepuluh anak yang tewas di kota itu ditembak oleh penembak jitu.
Akan tetapi, hingga kini, tidak ada penembak jitu yang dinyatakan bertanggung jawab secara pidana – baik di pengadilan Bosnia maupun di pengadilan internasional.
Pengadilan Den Haag, dalam putusannya terhadap pejabat tinggi Republika Srpska, menyimpulkan bahwa kampanye penembak jitu memiliki satu tujuan: "meneror warga sipil Sarajevo."
Mantan Jaksa Den Haag, Florence Hartmann, mengatakan kepada Radio Free Europe bahwa Pengadilan Den Haag mengetahui keberadaan "'weekend sniper'.
"Kami tahu tentang ini, saya bahkan tidak tahu harus menyebutnya apa. Kami tidak tahu bagaimana ini diorganisasi. Sangat penting bahwa penyelidikan yudisial telah dibuka dan siapa saja yang terlibat harus diselidiki," kata Hartmann. (hanoum/arrahmah.id)
