(Arrahmah.id) - Ibadah puasa Ramadhan merupakan amalan yang langsung antara hamba dengan Allah. Tidak ada yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau diam-diam masuk dapur untuk minum, atau pergi ke warung untuk makan. Yang mengetahui hanyalah Allah dan dirinya sendiri. Karena itu, motivasi beribadah semata-mata karena Allah itulah yang disebut keikhlasan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Demikian pula qiyamullail atau tarawih:
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dua Syarat Diterimanya Amal
Imam Fudhail bin Iyadh menafsirkan firman Allah:
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“… supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Beliau berkata: amal terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar.
أخلصه وأصوبه
“Jika amal itu ikhlas tetapi tidak benar, tidak diterima. Jika benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima.”
Ikhlas berarti memurnikan niat hanya untuk Allah, sedangkan benar berarti mengikuti ajaran Rasulullah ﷺ.
Hal ini ditegaskan pula dalam firman Allah:
QS. Al-Bayyinah: 5 — Perintah beribadah dengan ikhlas dan lurus.
QS. An-Nisa: 125 — Agama terbaik adalah berserah diri dengan ikhlas kepada Allah dan mengikuti jalan yang lurus.
Pentingnya Niat
« إنما الأعمال بالنيات »
“Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya.”
« نية المؤمن أبلغ من عمله »
“Niat seorang mukmin lebih kuat daripada amalnya.” (HR. Baihaqi)
Yahya bin Abi Katsir berkata:
“Pelajarilah niat, karena ia lebih penting daripada amal.”
Banyak ulama menyebut niat sebagai sepertiga ilmu Islam.
Para Nabi adalah Hamba yang Ikhlas
Nabi Musa عليه السلام — QS. Maryam: 51, disebut sebagai hamba yang ikhlas.
Nabi Yusuf عليه السلام — QS. Yusuf: 24, termasuk hamba yang disucikan.
Nabi Muhammad ﷺ — QS. Al-Baqarah: 139, mengabdi kepada Allah dengan ikhlas.
Beratnya Menjaga Niat
Sufyan Ats-Tsauri: “Tidak ada yang lebih berat bagiku daripada memperbaiki niatku, karena ia selalu berubah.”
Yusuf Ar-Razi: “Ikhlas adalah perkara paling berat. Setiap kali aku menghilangkan riya’, ia muncul lagi dalam bentuk lain.”
Resep Menjaga Ikhlas (Ibnul Qayyim)
- Sebelum beramal: Tanyakan, untuk siapa aku berbuat?
- Saat beramal: Jaga dari riya’ dan hawa nafsu.
- Sesudah beramal: Lupakan, jangan diceritakan.
Tanda Orang Ikhlas
1. Mengharap ridha Allah semata (QS. Al-Kahfi: 28)
2. Suka beramal secara tersembunyi
“Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tersembunyi amalnya.” (HR. Muslim)
3. Luar biasa di dalam, sederhana di luar (QS. Al-Furqan: 63–67)
4. Takut amal tidak diterima (QS. Al-Mukminun: 60)
Orang beriman tetap takut amalnya tidak diterima walau rajin shalat, puasa, dan sedekah.
5. Tidak menunggu pujian manusia (QS. Asy-Syu’ara: 109, QS. Al-Insan: 9)
6. Tidak takut celaan manusia (QS. Al-Maidah: 54)
Peringatan Keras
“Mereka beribadah malam seperti kalian, tetapi ketika sendirian melanggar larangan Allah.” (HR. Ibnu Majah)
Bersambung…
(*/arrahmah.id)
