Memuat...

Puluhan Tentara 'Israel' Diidentifikasi dalam Pengaduan ICC atas Pembunuhan Hind Rajab

Zarah Amala
Rabu, 22 Oktober 2025 / 1 Jumadilawal 1447 11:00
Puluhan Tentara 'Israel' Diidentifikasi dalam Pengaduan ICC atas Pembunuhan Hind Rajab
Hind Rajab, lima tahun, terlihat bahagia dalam foto keluarga yang dibagikan di media sosial di seluruh dunia setelah pembunuhan tragisnya (X)

GAZA (Arrahmah.id) - Yayasan Hind Rajab (Hind Rajab Foundation/HRF) pada Selasa (21/10/2025) mengumumkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi dua lusin tentara 'Israel' yang akan dilaporkan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) karena keterlibatan mereka dalam pembunuhan bocah Palestina, Hind Rajab, tahun lalu.

Yayasan ini mengambil nama dari Hind, gadis kecil berusia lima tahun yang tewas ditembaki berulang kali oleh pasukan 'Israel' di Gaza pada Januari 2024, dalam salah satu serangan paling brutal selama genosida terhadap rakyat Palestina.

Di antara yang disebut namanya secara terbuka terdapat Kolonel Beni Aharon, komandan Brigade Lapis Baja ke-401 yang sebelumnya telah menjadi subjek gugatan di ICC; Letnan Kolonel Daniel Ella, komandan Batalion Lapis Baja ke-52; dan Mayor Sean Glass, komandan Kompi Vampire Empire. Kedua nama terakhir diyakini bertanggung jawab langsung atas penembakan yang menewaskan Hind dan keluarganya di lapangan.

HRF mengatakan, 22 prajurit lainnya dari unit yang sama akan diumumkan “secara bertahap, seiring pengajuan gugatan di berbagai yurisdiksi nasional.”

Langkah ini menyusul tayangan dokumenter berdurasi satu jam di Al Jazeera Arabic bertajuk Ma Khafiya A‘zham (Apa yang Tersembunyi Lebih Besar) yang diproduksi bersama HRF. Dalam pernyataannya, yayasan menyebut telah menyerahkan dokumen setebal 120 halaman ke ICC di bawah Pasal 15 Statuta Roma, yang memberi kewenangan jaksa untuk membuka penyelidikan berdasarkan informasi kejahatan dalam yurisdiksi pengadilan tersebut.

Berkas itu mencakup bukti digital, citra satelit, dan forensik yang menunjukkan bahwa tank Merkava IV dari Kompi Vampire Empire menembaki mobil Kia Picanto hitam tempat Hind dan keluarganya berlindung, kemudian menargetkan ambulans Palang Merah Palestina yang datang untuk menyelamatkannya.

Serangan itu dilakukan, menurut HRF, “dengan pengetahuan penuh bahwa para korban adalah warga sipil dan memiliki status yang dilindungi,” setelah adanya koordinasi sebelumnya antara Palang Merah Palestina dan otoritas 'Israel'.

Tim hukum HRF menyimpulkan bahwa tindakan itu merupakan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida, sebagaimana diatur dalam Pasal 6, 7, dan 8 Statuta Roma.

Yayasan ini juga memiliki satu perkara yang masih berjalan di Argentina, terhadap Itay Cukierkopf, anggota kru tank yang disebut dalam gugatan ICC tersebut.

Presiden HRF, Dyab Abou Jahjah, mengatakan bahwa lembaganya menggunakan konten video dan unggahan media sosial para tentara 'Israel' sendiri sebagai bukti atas kejahatan perang mereka.

“Kau tidak bisa membantai orang, merekamnya, menyebarkannya ke seluruh dunia, lalu hidup tenang sambil minum kopi di Brussels,” ujarnya kepada Middle East Eye.

“Kami akan mengejar para penjahat perang ke mana pun mereka pergi.”

Menurut Abou Jahjah, hingga awal 2025 HRF telah mengumpulkan lebih dari 8.000 bukti yang berkaitan dengan dugaan kejahatan perang tentara 'Israel' di Gaza.

“Bukti sudah ada. Tantangannya adalah bagaimana mengubahnya menjadi kasus hukum,” katanya.

Ia menegaskan HRF bukan sekadar lembaga swadaya masyarakat, melainkan “mesin keadilan” yang berfokus pada litigasi ofensif dan strategi akuntabilitas ganda, menargetkan tentara 'Israel' yang memiliki kewarganegaraan ganda atau mereka yang bepergian ke negara yang membuka peluang hukum internasional.

Kematian Hind Rajab telah menjadi simbol kekejaman perang Gaza. Investigasi pada Juni 2024 menemukan bahwa Hind dan keluarganya ditembaki dengan 335 peluru saat mencoba melarikan diri dari Gaza utara. Selama tiga jam, Hind sempat hidup seorang diri di antara jasad keluarganya sebelum akhirnya tewas, setelah paramedis Yusuf al-Zeino dan Ahmed al-Madhoun yang hendak menolongnya juga dibunuh oleh pasukan 'Israel'.

Rekaman panggilan terakhir Hind yang memilukan, di mana ia berkata, “Aku takut gelap… tolong jemput aku,” mengguncang dunia dan menjadi saksi bisu kebiadaban perang.

Kisah tragisnya kini diangkat menjadi film layar lebar yang digadang-gadang akan menjadi kandidat kuat Oscar untuk Film Berbahasa Asing Terbaik tahun depan.

Sejak agresi dimulai, lebih dari 67.000 warga Palestina telah terbunuh di Jalur Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak. (zarahamala/arrrahmah.id)