GAZA (Arrahmah.id) - Pengumuman Channel 12 Israel mengenai dimulainya persiapan pembukaan Perlintasan Rafah memicu berbagai pertanyaan tentang makna langkah tersebut, batas implementasinya, serta apakah benar-benar menjadi pintu masuk menuju fase kedua kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
Saluran televisi 'Israel' itu melaporkan pada Rabu (31/12/2025) bahwa Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyepakati pembukaan Perlintasan Rafah dari kedua sisi setelah Netanyahu kembali ke 'Israel'. Disebutkan pula bahwa otoritas 'Israel' telah memulai persiapan teknis untuk membuka perlintasan tersebut.
Pakar urusan 'Israel', Mohammed Helseh, menilai bahwa hubungan antara Trump dan Netanyahu ditandai oleh “tingkat keselarasan dan keharmonisan yang hampir mutlak”. Ia menggambarkan peran keduanya di kawasan sebagai “polisi jahat dan polisi yang lebih jahat”, dengan ancaman penggunaan kekuatan yang terus dikedepankan sesuai situasi.
Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, Helseh mengatakan bahwa kesepahaman antara Washington dan Tel Aviv bertumpu pada upaya memasukkan Gaza ke dalam “gencatan senjata paksa sementara” pada fase kedua, yang berfokus pada pengaturan keamanan dan kemanusiaan tanpa solusi politik apa pun.
Menurutnya, setiap perkembangan keamanan, terutama di wilayah yang berada di bawah kendali Hamas, dapat dijadikan dalih untuk memulai putaran pertempuran baru.
Helseh menegaskan bahwa pendekatan ini bukanlah perubahan kebijakan Amerika Serikat dan 'Israel' terhadap Gaza, melainkan sekadar manajemen waktu hingga pemilu 'Israel' mendatang. 'Israel', kata dia, tidak berkepentingan menyelesaikan isu-isu mendasar atau masuk ke jalur penyelesaian politik sebelum pemilu, melainkan cukup mengelola krisis dan mempersiapkan eskalasi berikutnya.
Ia juga menilai bahwa upaya menggambarkan pembukaan sebagian perlintasan dan masuknya bantuan sebagai “konsesi Israel” hanyalah “menabur debu ke mata” para mediator agar terlihat seolah ada fleksibilitas dari pihak 'Israel'.
Pada awal Desember lalu, 'Israel' mengumumkan bahwa Perlintasan Rafah akan segera dibuka, namun hanya untuk keberangkatan warga Gaza. Proses tersebut disebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Mesir dan memerlukan persetujuan keamanan 'Israel'. Namun, Kairo membantah adanya koordinasi dengan Tel Aviv terkait perlintasan tersebut.
Sementara itu, analis strategis Partai Republik Amerika Serikat, Adolfo Franco, menyatakan bahwa pembukaan Perlintasan Rafah sebenarnya sudah dapat diperkirakan. Ia mengatakan bahwa sumber-sumbernya di Gedung Putih mengungkap adanya tekanan Amerika Serikat dalam pertemuan Trump dan Netanyahu, termasuk dorongan untuk meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Menurut Franco, Washington berupaya mendorong 'Israel' agar lebih memperhatikan citranya di dalam dan luar negeri, dan langkah-langkah tersebut dinilai dapat membantu “mencairkan kebuntuan”.
Ia menambahkan bahwa transisi penuh ke fase kedua kesepakatan bergantung pada pembentukan “pasukan stabilisasi internasional”, keberadaan otoritas alternatif di Gaza selain Hamas, serta pembentukan dewan pemerintahan. Amerika Serikat, kata Franco, mengklaim akan mendorong agenda ini terlepas dari sikap 'Israel'.
Namun, Helseh kembali menegaskan bahwa pembukaan Perlintasan Rafah sejatinya merupakan kewajiban sejak awal gencatan senjata, dan mempromosikannya kini sebagai sebuah pencapaian justru menutupi esensi pendekatan Amerika Serikat–'Israel' yang bertujuan mempertahankan kontrol keamanan ketat atas Gaza, khususnya wilayah yang dikuasai Hamas.
Ia menilai pendekatan tersebut merupakan versi ulang dari skenario yang diterapkan di Lebanon, dengan dukungan implisit dari Amerika Serikat.
Helseh menyimpulkan bahwa fase berikutnya kemungkinan akan ditandai oleh serangan 'Israel' di masa mendatang dengan dalih isu persenjataan dan senjata Hamas, seraya menyatakan keyakinannya akan adanya “kesepahaman tersirat” antara Washington dan Tel Aviv terkait jalur tersebut.
Sebelumnya, situs berita Axios mengutip pejabat Amerika Serikat yang menyebut bahwa Trump dan Netanyahu telah sepakat untuk melangkah ke fase kedua kesepakatan Gaza. Presiden Amerika Serikat juga dilaporkan berjanji kepada Netanyahu untuk mengizinkan tindakan militer terhadap Hamas jika kelompok tersebut tidak mulai melucuti persenjataannya. (zarahamala/arrahmah.id)
