Memuat...

Serangan Drone Kedua Mengincar Armada Global Sumud Flotilla di Tunisia

Zarah Amala
Kamis, 11 September 2025 / 19 Rabiulawal 1447 10:31
Serangan Drone Kedua Mengincar Armada Global Sumud Flotilla di Tunisia
Kapal Alma dari Armada Global Sumud menjadi sasaran di lepas pantai Tunisia. (Foto: rekaman video)

TUNIS (Arrahmah.id) - Armada Global Sumud Flotilla (GSF) kembali menjadi sasaran serangan drone saat bersiap berlayar menuju Gaza dari Tunisia. Dalam pernyataannya, GSF mengonfirmasi bahwa pada 9 September lalu, kapal Alma, yang berlayar dengan bendera Inggris, diserang oleh drone ketika tengah bersandar di perairan Tunisia.

Serangan itu menyebabkan kebakaran di bagian atas dek kapal. Meski api berhasil dipadamkan dengan cepat, GSF menegaskan bahwa ini adalah “upaya terencana untuk mengacaukan misi flotilla,” namun mereka menolak gentar dan memastikan perjalanan akan tetap dilanjutkan.

Aktivis Leila Hegazy, yang sedang bertugas jaga saat kejadian, melaporkan bahwa serangan terjadi di malam hari. “Ini sudah serangan drone kedua terhadap salah satu kapal kami. Kami harap ini tidak jadi kejadian tiap malam, karena jelas mereka sedang bermain-main,” ujarnya.

Seorang aktivis lain yang menyaksikan langsung mengatakan drone itu terbang sangat rendah, “hanya sekitar enam meter di atas kepala,” sebelum akhirnya menimbulkan kebakaran. “Kami langsung membunyikan alarm, berteriak, dan menyalakan selang air. Api padam dalam dua menit,” jelasnya.

Pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada kerusakan struktural besar, seluruh kru juga selamat. Meski begitu, para aktivis menyebut ini sebagai “taktik intimidasi yang nyata” untuk menakut-nakuti orang agar tidak ikut berlayar. Mereka menegaskan misi kemanusiaan ini tidak akan berhenti.

Sehari sebelumnya, kapal utama flotilla, Family Boat, juga diserang objek terbakar yang diduga dijatuhkan drone di lepas pantai Tunisia. Video yang dirilis aktivis menunjukkan api tiba-tiba menyala di salah satu bagian kapal setelah sebuah benda jatuh dari langit.

Armada Global Sumud Flotilla, Sumud berarti “keteguhan” dalam bahasa Arab, terdiri dari lebih dari 50 kapal yang membawa dokter, jurnalis, aktivis, dan sukarelawan dari berbagai negara. Sekitar 150 aktivis dari Tunisia, Turki, Eropa, Afrika, hingga Asia ikut serta. Rombongan ini berangkat dari Barcelona akhir Agustus lalu, lalu bergabung dengan kelompok lain dari Genoa, Italia, dan direncanakan melanjutkan perjalanan dari Tunisia menuju Gaza pada Rabu (10/9/2025). Tujuan utama mereka adalah menantang blokade 'Israel' dan membawa bantuan kemanusiaan berupa makanan, obat-obatan, serta kebutuhan pokok lainnya ke Jalur Gaza.

PBB Minta 'Israel' Hentikan Ancaman terhadap Flotilla

Di tengah situasi ini, pakar independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak 'Israel' untuk menghentikan segala ancaman terhadap Global Sumud Flotilla. Mereka menegaskan bahwa menghalangi misi kemanusiaan ini akan menjadi pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (9/9), para pakar menekankan bahwa keberangkatan flotilla merupakan akibat langsung dari kegagalan komunitas internasional mengakhiri blokade ilegal 'Israel' atas Gaza, yang telah menciptakan krisis kemanusiaan besar-besaran. Armada lebih dari 50 kapal ini berlayar dari Barcelona pada 31 Agustus, membawa makanan, obat-obatan, dan bantuan penting lainnya. Gelombang kedua kapal dijadwalkan berangkat dari Tunisia dan pelabuhan-pelabuhan Mediterania lain pekan ini.

Para pakar PBB menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap keselamatan para aktivis, mengingat insiden penyerangan kapal Madaleen pada Juni 2025 serta ancaman Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir yang berencana menahan peserta flotilla dengan kondisi penjara keras serta menyita kapal-kapal mereka. Tindakan seperti itu, menurut para pakar, akan menjadi bentuk hukuman kolektif, intimidasi, dan balasan terhadap para pembela hak asasi manusia.

Mereka menegaskan kembali bahwa menurut hukum internasional, Gaza tetap berstatus wilayah pendudukan, dan blokade 'Israel' selama 17 tahun merupakan hukuman kolektif yang dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional.

Dengan kondisi Gaza yang kini menghadapi kelaparan dan risiko genosida sebagaimana diakui lembaga-lembaga internasional, PBB menyerukan semua negara untuk memenuhi kewajiban mereka berdasarkan Piagam PBB dan Konvensi Jenewa: menekan Israel agar mencabut blokade dan membuka akses penuh bagi pengiriman bantuan kemanusiaan.

Sebelumnya, pada 22 Agustus, badan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang didukung PBB melaporkan bahwa kelaparan sudah melanda Gaza bagian utara dan berpotensi menyebar ke seluruh wilayah jika blokade 'Israel' terus berlanjut. (zarahamala/arrahmah.id)