GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah rumah sakit di Gaza melaporkan empat orang tewas pada Kamis (20/11/2025) dalam serangan udara terbaru "Israel" di wilayah Palestina, sementara "Israel" dan Hamas saling tuduh melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.
Serangan baru ini terjadi keesokan paginya setelah salah satu hari paling mematikan di Jalur Gaza sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, dengan 27 orang tewas, menurut badan pertahanan sipil Gaza, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas.
Rumah sakit Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan, melaporkan empat orang tewas dalam serangan pada Kamis pagi, setelah badan pertahanan sipil melaporkan jumlah korban tewas yang lebih rendah, yaitu tiga orang, lansir AFP.
Korban tewas termasuk tiga orang dari satu keluarga, termasuk seorang anak perempuan berusia satu tahun, dalam serangan terhadap sebuah rumah di sebelah timur Khan Yunis, dan satu orang dalam serangan udara di kota Abasan al-Kabira, juga di sebelah timur Khan Yunis.
Seorang sumber di Kementerian Dalam Negeri Gaza yang dikelola Hamas, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan tembakan artileri terus berlanjut di wilayah Khan Yunis.
Garis kuning tersebut menandai batas di dalam Jalur Gaza tempat pasukan "Israel" telah ditarik ke posisi di sebelah timur, sebagai bagian dari gencatan senjata yang ditengahi AS.
"Kami mengetahui adanya serangan di sebelah timur garis kuning yang dilakukan untuk menghancurkan infrastruktur 'teror'," klaim militer "Israel" kepada AFP.
"Kami tidak mengetahui adanya korban yang dilaporkan. Ini adalah bagian dari operasi rutin IDF (militer Israel) di sebelah timur garis kuning," lanjutnya mengklaim.
"Israel" telah berulang kali melancarkan serangan terhadap apa yang disebutnya sebagai target Hamas selama gencatan senjata, yang mengakibatkan kematian lebih dari 312 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan di Gaza.
"Kejahatan yang terus berlanjut ini merupakan pengabaian terang-terangan oleh pendudukan terhadap perjanjian gencatan senjata," kata Hamas dalam sebuah pernyataan.
Gerakan Islamis tersebut mendesak Presiden AS Donald Trump dan mediator gencatan senjata lainnya untuk "mengambil tindakan serius guna menghentikan kejahatan ini".
Dewan Keamanan PBB pada Senin memberikan suara mendukung resolusi rancangan AS yang mendukung rencana perdamaian Gaza Trump, meskipun Hamas menolak resolusi tersebut karena dianggap gagal memenuhi "tuntutan politik dan kemanusiaan" Palestina. (haninmazaya/arrahmah.id)
