Memuat...

Serangan Udara 'Israel' di Lebanon Selatan Tewaskan Satu Orang, Picu Kekhawatiran Eskalasi Baru

Zarah Amala
Jumat, 7 November 2025 / 17 Jumadilawal 1447 09:49
Serangan Udara 'Israel' di Lebanon Selatan Tewaskan Satu Orang, Picu Kekhawatiran Eskalasi Baru
Jet-jet tempur 'Israel' menyerang beberapa kota di Lebanon selatan pada Kamis (6/11/2025) setelah mendesak penduduk untuk pergi, menandai peningkatan serangan mereka yang hampir setiap hari di negara itu. (X/@loquacious_lb)

BEIRUT (Arrahmah.id) - Satu orang tewas dan delapan lainnya terluka pada Kamis (6/11/2025) dalam serangan udara 'Israel' di Lebanon selatan, yang disertai peringatan evakuasi sebelum serangan dilancarkan terhadap apa yang disebut 'Israel' sebagai infrastruktur militer Hizbullah di Tayr Debba, At-Taybah, dan Ayta Al-Jabal, di selatan Sungai Litani.

Serangan tersebut menandai meningkatnya ketegangan yang mengarah pada kemungkinan kembalinya konflik terbuka di kawasan tersebut.

Peringatan udara yang diikuti oleh serangan menyebabkan kepanikan di sejumlah desa padat penduduk, dengan warga bergegas meninggalkan daerah di sekitar lokasi sasaran.

Juru bicara militer 'Israel' Avichai Adraee mengatakan bahwa korban tewas dan yang terluka dalam serangan di antara kota Abbasiya dan Tura di distrik Tyre merupakan “pekerja yang terlibat dalam infrastruktur milik Hizbullah yang digunakan untuk memproduksi peralatan guna membangun kembali fasilitas yang dihancurkan selama perang.”

Serangan itu disebut sebagai pelanggaran terbaru terhadap perjanjian gencatan senjata yang telah berlaku sejak 27 November. Sejak saat itu, pasukan 'Israel' dilaporkan telah melakukan puluhan serangan udara dan darat jauh ke dalam wilayah Lebanon.

Laporan militer 'Israel' yang dirilis Kamis menyebutkan bahwa “Hizbullah telah melewati garis merah Israel dengan memiliki sekitar 20.000 rudal, sebagian besar jarak pendek, berbeda dengan perkiraan sebelumnya yang hanya 10.000.”

Sehari sebelumnya, militer 'Israel' juga mengklaim telah “menewaskan sekitar 20 anggota Hizbullah selama sebulan terakhir.”

Sementara itu, media 'Israel', termasuk Channel 12, melaporkan bahwa tentara 'Israel' sedang mempersiapkan operasi militer baru di Lebanon dengan tujuan “melemahkan Hizbullah dan mendorong pemerintah Lebanon menandatangani perjanjian stabilitas dengan 'Israel'.”

Sebagai tanggapan, Hizbullah pada Kamis (6/11) mengirim surat kepada presiden, ketua parlemen, perdana menteri, dan rakyat Lebanon, memperingatkan bahwa negosiasi dengan “musuh Israel” akan membawa konsekuensi berbahaya.

“Hizbullah menjalankan hak sah untuk membela diri dari musuh yang memaksakan perang terhadap negara kami dan terus melakukan agresi,” demikian isi pernyataan kelompok tersebut.

Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya menyatakan kesiapan negaranya untuk bernegosiasi dengan 'Israel', dengan menegaskan bahwa langkah itu merupakan “pilihan nasional yang menyeluruh, bukan sektarian.”

Namun, Hizbullah menolak menyerahkan senjatanya dan menegaskan bahwa “isu kontrol eksklusif atas senjata tidak dapat dibahas sebagai tanggapan terhadap tekanan asing, melainkan hanya dalam kerangka strategi nasional untuk keamanan dan kedaulatan.”

Sejumlah partai politik Lebanon mengkritik pernyataan Hizbullah tersebut.

Seorang sumber resmi Lebanon mengatakan kepada Arab News bahwa “tekad presiden untuk melanjutkan negosiasi menunjukkan keinginan Lebanon untuk menghindari perang dan menempuh jalur diplomasi.”

Sumber itu juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat belum menyampaikan tanggapan 'Israel' atas proposal negosiasi, serta menegaskan bahwa Lebanon tidak akan bernegosiasi mengenai tahanan atau wilayah, melainkan hanya menuntut diakhirinya serangan 'Israel'.

Pada Kamis sore (6/11), kabinet Lebanon meninjau laporan kedua dari Komando Angkatan Darat Lebanon mengenai operasi di selatan Sungai Litani, yang merupakan bagian dari upaya menempatkan seluruh senjata di bawah kendali negara.

Laporan itu menyebut bahwa militer kini memiliki 118 pos di wilayah tersebut, dan beberapa lokasi lain “tidak dapat diungkap karena masih diduduki Israel atau terus diserang.”

Militer juga melaporkan telah membongkar sejumlah gudang senjata dan mengamankan terowongan, termasuk empat fasilitas besar, salah satunya di Wadi Jilo di distrik Tyre yang berisi persenjataan dan kendaraan dalam jumlah besar.

UNIFIL, pasukan perdamaian PBB di Lebanon, menyatakan bekerja sama erat dengan militer Lebanon untuk menjaga stabilitas kawasan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz memperingatkan pada Ahad (2/11) bahwa ibu kota Lebanon, Beirut, akan menjadi target jika Hizbullah melancarkan serangan ke 'Israel' utara.

“Israel akan menanggapi setiap ancaman, dan utusan AS telah menyampaikan pesan ini kepada pemerintah Lebanon,” kata Katz. Namun ia menambahkan bahwa “AS saat ini menekan Lebanon untuk melucuti senjata Hizbullah , dan 'Israel' akan memberi kesempatan pada upaya diplomatik tersebut.” (zarahamala/arrahmah.id)