GAZA (Arrahmah.id) - Seorang tentara 'Israel' yang sebelumnya ditawan oleh Brigade Al-Qassam mengungkapkan bahwa para penawannya memenuhi semua kebutuhannya untuk beribadah selama masa penahanan di Jalur Gaza.
Dalam pernyataannya yang pertama setelah dibebaskan pada Senin (13/10/2025), saluran televisi 'Israel' Channel 13 mengutip tentara bernama Matan Engrest yang mengatakan bahwa ia “meminta Hamas untuk membawakan tefillin (kotak kulit kecil yang diikat di dahi saat berdoa), sebuah siddur (buku doa), dan sebuah gulungan Taurat.”
Menurut Engrest, Brigade Al-Qassam memberikan semua barang yang dimintanya, yang diperoleh dari wilayah-wilayah yang sebelumnya diduduki tentara 'Israel' di Gaza.
Ia menambahkan bahwa ia dapat menjalankan ibadah tiga kali sehari di dalam terowongan, dan selamat dari beberapa serangan udara 'Israel' yang menghantam dekat lokasi tempat ia ditahan.
Brigade Al-Qassam berulang kali menegaskan bahwa mereka berupaya semaksimal mungkin menjaga keselamatan para tawanan, sambil memperingatkan bahwa serangan udara 'Israel' yang membabi buta justru membahayakan nyawa mereka.
Kesaksian tentara 'Israel' ini sangat kontras dengan laporan-laporan tentang penyiksaan, penelantaran medis, dan berbagai bentuk kekerasan lain yang dialami para tahanan Palestina di penjara-penjara 'Israel', kondisi yang diungkap oleh banyak tahanan yang baru saja dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tawanan yang masih berlangsung.
Sejak Senin (13/20), Hamas telah membebaskan 20 tawanan 'Israel' yang masih hidup, dan hingga Rabu malam (15/10) menyerahkan 10 jenazah lainnya. Gerakan itu mengatakan bahwa mereka masih membutuhkan waktu tambahan untuk menemukan dan mengevakuasi sisa jenazah yang tertimbun.
Sebagai gantinya, 'Israel' membebaskan 250 tahanan Palestina yang divonis seumur hidup, serta 1.718 tahanan lainnya yang ditangkap dari Jalur Gaza setelah 8 Oktober 2023.
Lebih dari 10.000 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, masih dipenjara di 'Israel', di mana mereka menghadapi penyiksaan, kelaparan, dan penelantaran medis. Beberapa di antaranya telah meninggal dunia, menurut laporan lembaga hak asasi manusia Palestina maupun 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)
