Memuat...

Warga Afghanistan Berduka atas Kematian Penduduk Desa yang Gugur dalam Serangan Pakistan

Hanin Mazaya
Ahad, 22 Februari 2026 / 5 Ramadan 1447 17:50
Warga Afghanistan Berduka atas Kematian Penduduk Desa yang Gugur dalam Serangan Pakistan
(Foto: AFP)

NANGARHAR (Arrahmah.id) - Warga Afghanistan berkumpul di sekitar kuburan massal pada Ahad (22/2/2026) untuk menguburkan penduduk desa yang tewas dalam serangan udara oleh Pakistan, yang mengklaim militernya menargetkan militan.

Serangan semalam menewaskan sedikitnya 18 orang dan merupakan serangan paling luas sejak bentrokan perbatasan pada Oktober, yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua pihak dan melukai ratusan lainnya.

“Rumah itu hancur total. Anak-anak dan anggota keluarga saya ada di sana. Ayah dan putra-putra saya ada di sana. Mereka semua tewas,” kata Nezakat, seorang petani berusia 35 tahun di distrik Bihsud, yang hanya menyebutkan satu nama, seperti dilaporkan AFP.

Islamabad mengklaim pihaknya menyerang tujuh lokasi di sepanjang wilayah perbatasan yang menargetkan kelompok militan yang berbasis di Afghanistan, sebagai tanggapan terhadap serangan bom bunuh diri di Pakistan.

Militer menargetkan Taliban Pakistan dan sekutunya, serta afiliasi kelompok ISIS, demikian pernyataan dari Kementerian Informasi dan Penyiaran.

Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengatakan “rumah-rumah warga telah hancur, mereka telah menargetkan warga sipil, mereka telah melakukan tindakan kriminal ini dengan pemboman provinsi Nangarhar dan Paktika".

Warga dari sekitar distrik Bihsud yang terpencil di Nangarhar bergabung dengan tim pencari untuk mencari jenazah di bawah reruntuhan, kata seorang jurnalis AFP, menggunakan sekop dan alat penggali.

“Orang-orang di sini adalah orang biasa. Penduduk desa ini adalah kerabat kami. Ketika pemboman terjadi, satu orang yang selamat berteriak meminta bantuan,” kata tetangga Amin Gul Amin, 37 tahun.

Polisi Nangarhar mengatakan kepada AFP bahwa pemboman dimulai sekitar tengah malam dan menghantam tiga distrik, dengan semua korban tewas berada di rumah seorang warga sipil.

“Dua puluh tiga anggota keluarganya terkubur di bawah reruntuhan, di antaranya 18 tewas dan lima terluka,” kata juru bicara polisi Sayed Tayeeb Hammad.

Serangan di tempat lain di Nangarhar melukai dua orang lainnya, sementara di Paktika seorang jurnalis AFP melihat sebuah wisma yang hancur tetapi tidak ada laporan langsung tentang korban jiwa.

‘Respons yang terencana’
Kementerian pertahanan Afghanistan mengatakan akan “memberikan respons yang tepat dan terencana” terhadap serangan Pakistan.

Kedua negara telah terlibat dalam perselisihan yang semakin sengit sejak Imarah Islam Afghanistan merebut kembali kendali Afghanistan pada 2021.

Aksi militer Pakistan menewaskan 70 warga sipil Afghanistan antara Oktober dan Desember, menurut misi PBB di Afghanistan.

Beberapa putaran negosiasi menyusul gencatan senjata awal yang ditengahi oleh Qatar dan Turki, tetapi gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Arab Saudi turun tangan bulan ini, memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap oleh Afghanistan pada bulan Oktober.

Memburuknya hubungan telah berdampak pada masyarakat di kedua negara, dengan perbatasan darat sebagian besar ditutup selama berbulan-bulan.

Pakistan mengklaim pada Ahad bahwa meskipun telah berulang kali didesak oleh Islamabad, otoritas Taliban gagal bertindak melawan kelompok militan yang menggunakan wilayah Afghanistan untuk melakukan serangan di Pakistan.

Imarah Islam Afghanistan membantah melindungi militan.

Islamabad melancarkan serangan setelah ledakan bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Islamabad dua minggu lalu dan serangan serupa lainnya baru-baru ini di Pakistan barat laut.

Kelompok ISIS telah mengklaim bertanggung jawab atas pemboman masjid tersebut, yang menewaskan sedikitnya 40 orang dan melukai lebih dari 160 orang dalam serangan paling mematikan di Islamabad sejak 2008.

Cabang regional kelompok militan tersebut, Negara Islam-Khorasan, juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri yang mematikan di sebuah restoran di Kabul bulan lalu. (haninmazaya/arrahmah.id)