GAZA (Arrahmah.id) - Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan kepada AFP pada Jumat (20/2/2026) bahwa kelompok Palestina tersebut terbuka terhadap pasukan penjaga perdamaian internasional di Gaza, tetapi menolak campur tangan apa pun dalam urusan internal wilayah tersebut.
Pada pertemuan perdana "Dewan Perdamaian" Presiden AS Donald Trump di Washington pada Kamis, diumumkan bahwa sejumlah negara akan mengirimkan pasukan untuk Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) yang baru dibentuk untuk Gaza.
Maroko mengumumkan kesediaannya untuk mengirim polisi serta tentara ke ISF, sementara komandan pasukan Amerika, Mayor Jenderal Jasper Jeffers, mengatakan bahwa Albania, Indonesia, Kazakhstan, dan Kosovo juga akan mengirimkan pasukan.
“Posisi kami mengenai pasukan internasional sudah jelas,” kata juru bicara Hamas, Qassem, kepada AFP.
“Kami menginginkan pasukan penjaga perdamaian yang memantau gencatan senjata, memastikan pelaksanaannya, dan bertindak sebagai penyangga antara tentara pendudukan dan rakyat kami di Jalur Gaza, tanpa campur tangan dalam urusan internal Gaza.”
ISF bertujuan untuk memiliki 20.000 tentara, serta pasukan polisi baru. Indonesia telah menyatakan kesediaannya untuk mengirim hingga 8.000 pasukan.
Nickolay Mladenov, yang ditunjuk sebagai perwakilan tinggi untuk Gaza oleh Amerika Serikat, mengumumkan pada pertemuan Dewan Perdamaian dimulainya perekrutan untuk pasukan polisi pasca-Hamas di Gaza.
“Melatih pasukan polisi Palestina dalam kerangka nasional mereka bukanlah masalah jika tujuannya adalah untuk menjaga keamanan internal di Jalur Gaza dan menghadapi kekacauan yang ingin diciptakan oleh pendudukan dan milisinya,” tambah Qassem.
Dewan Perdamaian dibentuk setelah pemerintahan Trump, dengan mediator lama Qatar dan Mesir, menegosiasikan gencatan senjata pada Oktober untuk menghentikan perang dahsyat selama dua tahun antara "Israel" dan Hamas di Gaza. (haninmazaya/arrahmah.id)
